“Hidup
hanya sekali, jadikanlah lebih berarti”. Arti dari pernyataan tersebut adalah
bagaimana seharusnya kita sebagai manusia senantiasa selalu menjadi dan
melakukan hal yang terbaik dalam hidup, mengingat manusia memiliki keterbatasan
waktu. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua makhuk hidup termasuk manusia
akan mengalami yang namanya kematian. Jadi ketika gemerlap kehidupan dunia
membutakan hati manusia, maka saya fikir manusia tersebut sangat merugi. Karena
harta, tahta, dan wanita tidak akan pernah kita bawa sampai meninggal. Hanya
amal sholeh dan ilmu yang bermanfaar yang akan terus mengalir menjadi catatan
pahala bagi sang mayat.
Ketika
manusia mulai mengingat tentang kematian, maka dia akan berfikir dan merasa
bahwa semua yang ada adalah bersifat fana. Manusia tersebut secara perlahan
akan mulai menyadari tentang hakikat dan esensi kehidupan. Kesadaran adalah
sebuah proses, karena yang namanya manusia terkadang lupa dan lalai terkait
tugas dan tanggung jawabnya selama hidup.
Mengingat
bahwa manusia tidak selamanya hidup dan tinggal di dunia. Maka sudah seharusnya
melakukan hal yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan. Menjadi manusia yang terbaik adalah suatu pilihan
yang tidak bisa ditawar lagi. Menjadi yang terbaik bukan berarti hanya beribadah
kepada Tuhan. Menjadi manusia yang terbaik juga berhubungan dengan dimensi
sosial, seperti bagaimana kita berakhlak dengan akhlakul karimah kepada setiap
orang.
Menjadi
yang terbaik, juga bisa diartikan bagaimana kita senantiasa berbenah dan
melakukan evaluasi diri setiap waktu. Jangan sampai kita lalai sehingga menyia
nyiakan waktu. Perlu diingat bahwa kita tidak selamanya merasakan masa muda,
karena bagaianapun masa tua telah menunggu. Tidak selamanya pula menikmati dan merasakan
indahnya kehidupan, karena kematian telah menanti di depan.
Yakinlah
bahwa Tuhan senantiasa mengawasi dan melihat gerak-gerik kita. Percayalah malaikat selalu mencatat amal
kebaikan dan keburukan kita. Jadilah manusia yang senantiasa mengingat Tuhan
dimanapun dan kapanpun berada. Jadilah
manusia yang senantiasa bertakwa dan senang melakukan amal kebaikan semisal,
suka bersedekah dan membantu orang lain.
Setiap
manusia harus selalu berupaya dan berharap mempeoleh ridha Allah. Karena itu
adalah tujuan pokok dari kehidupan manusia selama di dunia. Untuk mendapatkan
ridha Allah, maka harus menjadi manusia yang terbaik. Menurut saya menjadai
manusia terbaik, adalah menjadi manusia yang senantias mengikuti dan menjalni
ajaran Al-Quran dan Hadis. Jadi manusia tersebut selalu berpegang teguh dan
menjadikan Al-Quran dan Hadis sebagai landasan dalam berfikir, berkata dan
bertindak.
Jadi sebelum ajal menjemput, saya menghimbau
kepada diri saya sendiri dan setiap manusia agar selalu mengamalkan ajaran Nabi
Muhammad SAW. Menjalankan sunnahnya, meniru akhlaknya. Karena Nabi adalah suri
tauladan bagi seluruh umat manusia. Karena akhlak nabi merupakan akhlak terbaik
yang patut dicontoh.
Selain
itu, menjadi terbaik memiliki artian bagaimana kita menjadi manusia yang cerdas
dan alim dalam ilmu pengetahuan terutama ilmu agama. Karena amalan tanpa ilmu
sulit untuk diterima. Maka oleh karenya,
untuk menjadi yang terbaik, maka jangan pernah malas untuk menimba ilmu dan
menjadi pembelajar. Jangan sampai selepas lulus dari bangku sekolah/madrasah membuat kita cepat
puas terhadap ilmu yang diperoleh. Karena kewajiban menuntut ilmu itu semenjak
buaian hingga liang lahat.
Untuk
mengakhiri tulisan ini, marilah kita menjadi manusia yang selalu mengedepankan
kepentingan agama dan akhirat daripada dunia. Menjadi manusia yang mencintai
ilmu. Menjai manusia yang mencintai sunnah Rasul dan meniru akhlaknya. Karena
dengan begitu kita bisa menjadi yang terbaik. Semoga kita semua bisa meninggal
dalam keadaan khusnul khotimah. Amin
Penulis
: Muhammad Aufal F
Pamekasan,
15 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar