Saya
mengamati sekaligus mengikuti
pemberitaan atas catatan dari akun FB LPM Mercusuar terkait perpustakaan
Universitas Airlangga. Sungguh hal menarik untuk ditelusuri lebih lanjut mengingat ada isu pembatasan jam kunjung ke
perpustakaan tersebut. Note dari FB
LPM Mercusuar tersebut berjudul “Perpustakaan Tutup Bikin Kalut”. Sungguh
berita yang sempat membuat saya kaget mengingat saya tengah proses menjadi
seorang Bibliophilia, diambil dari
bahasa Yunani yang artinya pecinta buku. Bagaimana saya akan menyalurkan hasrat
baca yang sedang bergemuruh, jika misalnya akses menuju sumber informasi akan
dibatasi. Saya pribadi belum mengkonfirmasi terkait wacana pembatasan tersebut,
yang jelas mendengar adanya wacana pembatasan jam kunjung ke perpustakaan,
sungguh merupakan sebuah ironi sebuah
universitas yang konon katanya bertaraf Internasional. Sebagai salah satu akademisi
Universitas Airlangga, saya sempat terkejut terkait kebijakan lainnya mengenai
batas maximal peminjaman buku. Saya tidak pernah paham dan mengerti
rasionalisasi pembatasan jumlah maximal peminjaman buku tersebut. Hal yang
perlu diketahui adalah bahwasanya tulisan ini tidak bermaksud untuk memojokkan
salah satu pihak manapun. Tulisan ini hanya sebagai suatu cara saya mewakili
kawan-kawan mahasiswa lainnya terkait adanya wacana pembatasan waktu
berkunjung. Semoga hal tersebut hanya sekedar wacana, karena selama ini saya
tengah berproses menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran mengenai segala
hal.
Terkait
paparan di atas, kita perlu memahami fungsi dan peran perpustakaan dalam konteks
kehidupan sekarang. Berbicara mengenai perpustakaan maka pastinya berkaitan
dengan buku-buku di dalamnya, karena yang jelas selain sebagai tempat bagi
mahasiswa untuk mengerjakan tugas, bagaimanapun juga fungsi esensial dari
perpustakaan itu sendiri adalah tempat untuk membaca buku. Banyak para pendiri
bangsa dan tokoh nasional seperti Sukarno, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir dan
lain-lain menjadi besar karena kebiasaan dalam membaca buku. Dari situlah bisa
kita lihat peran buku yang begitu luar biasa dalam mengubah corak fikir,
pandangan hidup, karakter dan intelektualitas pendiri bangsa. Salah satu tokoh bangsa
lainnya yang merupakan pecinta buku kelas berat yaitu Gus Dur. Tak perlu
diragukan lagi kebiasaannya dalam membaca buku. Di dalam sebuah buku “The Authorized Biography of Abdurrahman
Wahid” karangan Greg Barton, menjelaskan bahwa selama di Mesir Gus Dur
memiliki kegemaran mengunjungi berbagai perpustakaan, salah satu diantaranya
yaitu perpustakaan Universitas Amerika, perpustakaan Kairo, perpustakaan
Perancis dan lain sebagainya. Sejalan dengan pentingnya aktivitas membaca ada
suatu ungkapan dari serorang sastrawan sekaligus penulis, Pramoedya Ananta Toer
yaitu “Jika engkau ingin mengenal dunia maka membacalah”. Hal tersebut memberi
suatu kesadaran kepada setiap manusia
terkait begitu pentingnya aktivitas membaca. Terkait aktivitas membaca maka
pasti berhubungan dengan buku. Hal tersebut mengingat buku sebagai sumber
informasi dan pengetahuan. Jadi pada dasarnya aktivitas membaca berkaitan
dengan transfer pengetahuan. Lantas timbul suatu pertanyaan, dimana biasanya
kita bisa menemui kumpulan buku-buku sebagai acuan dalam membaca. Maka jawabannya
tiada lain tiada bukan yaitu perpustakaan.
Perpustakaan
hendaknya dijadikan rujukan aktivitas intelektual bagi kalangan kampus,
terutama untuk mahasiswa. Ada tiga kegiatan pokok yang bisa dilakukan di
perpustakaan yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Ketiga kegiatan itulah yang
nantinya akan menjadikan mahasiswa pemimpin masa depan. Jika diibaratkan
telaga, kita bisa meminum air kebijaksanaan dari perpustakaan tersebut. Hanya
satu syarat cepatlah minum, artinya cepatlah membaca sebelum waktu menggilis
semuanya. Penulis tidak akan mengupas lebih dalam terkait manfaat membaca, di
sini titik fokusnya adalah terkait peran sentral perpustakaan sebagai penopang
peradaban bangsa.
Mengutip
tulisan Dr. Badri Yatim, M.A. sebuah buku “ Sejarah Peradaban Islam”, telah
disebutkan bahwa peradaban gemilang (the
golden age) Islam terkait dengan perkembangan perpustakaan kala itu, salah
satu diantaranya yaitu “Bait Al-Hikmah”,
salah satu perpustakaan sekaligus pusat penerjemahan di zaman Dinasti
Abbasiyah.
Artinya
peradaban gemilang kala itu terkait dengan berkembangnya pusat keilmuan
termasuk perpustakaan. Sehingga melalui aktivitas intelektual di perpustakaan
itulah lahir berbagai macam cendikiawan dan intelektual tersohor kala itu,
seperi Al-fazari sebagai ahli astronom, Ibnu Sina yang ahli di bidang
kedokteran, lalu ada Jabir ibnu Hayyan di bidang kimia dan masih banyak
lainnya. Sejalan dengan hal itu bisa
ditelusuri lebih lanjut bahwa perpustakaan tidak hanya sebagai penyimpanan buku
melainkan sebagai pusat kegiatan intelektual.
Mahasiswa
sebagai poros dan penentu alur peradaban bangsa, hendaknya membangun budaya
literasi yang bagus. Searah dengan hal tersebut, maka harus didukung dengan
fasilitas memadai termasuk perpustakaan yang benar-benar melayani sepenuhnya
bagi berkembangnya logika fikir dan ketajaman akal para generasi muda tersebut.
Penulis juga menghimbau kepada setiap generasi agar menjadikan perpustakaan
sebagai objek pembenahan intelektual. Artinya siapa yang hendak menambah asupan
informasi dan pengetahuan hendaknya sering mengunjungi perpustakaan.
Mengunjungi di sini sudah pastinya sejalan dengan aktivitas membaca. Artinya
tidak hanya sekedar berkunjung apalagi “numpang ngadem”.
Saya berharap nantinya
perpustakaan-perpustakaan yang ada, khususnya di Universitas Airlangga bisa mencetak
pemimpin dan intelektual yang menjadi problem
solver berbagai masalah bangsa. Saya yakin nantinya perpustakaan
Universitas Airlangga mencetak generasi yang cerdas dan beradab. Perpustakaan juga diharapkan menciptakan
sekaligus mencetak rausyanfikr. Di dalam sebuah
buku karangan Eko Supeno dengan judul “Sosialisme
Islam” , dinyatakan bahwa rausyanfikr
adalah istilah yang sering dipakai oleh Ali Syariati, seorang tokoh
revolusioner kebangsaan Iran untuk menyebutkan kalangan pemikir/ intelektual
yang tercerahkan. Artinya dengan begitu perpustakaan dinanti perannya oleh
berbagai kalangan untuk menciptakan intelektual yang sadar akan esensi perjuangan
hidupnya.
Percayalah
bahwa perpustakaan hanyalah objek. Keaktifan dari mahasiswalah yang diharapkan
nantinya bisa menjadi pecandu buku sekaliber Sukarno (Proklamator RI) atau Abraham Lincoln
(Presiden AS ke 16). Sekali lagi tugas dari pihak pengelola perpustakaan adalah
memberikan pelayanan terbaiknya agar mahasiswa mulai merasakan kecanduan
bergelut dengan dunia kebijaksanaan/ dunia hikmah (buku). Yakinlah bahwa
intensitas para mahasiswa membaca buku kemudian hari akan membentuk sikap,
karakter dan kepribadian mahasiswa tersebut. Oleh karenanya dengan memberikan
pelayanan terbaik kepada mahasiswa, secara tidak langsung memberikan sumbangsih
lahirnya calon-calon generasi emas, karena mahasiswa adalah salah satu agent of civilization/agen peradaban.
Pada
akhirnya inti dari tulisan saya tersebut adalah bahwa perpustakaan merupakan “centre of knowladge/centre of information/centre of wisdom (pusat pengetahuan/informasi/hikmah). Jadi penulis
menghimbau kepada pihak terkait agar memberikan pelayanan terbaik kepada
mahasiswa, walaupun saya rasa pelayanan selama ini tidak begitu buruk. Selanjutnya
saya juga menghimbau kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh mahasiswa
Airlangga agar menjadikan perpustakaan sebagai “Ruang Pembenahan Intelektual”.
Sehingga nantinya diharapkan lahir generasi gemilang dengan karakteristik atau spesifikasi kemampuan yang
dimiliki. Sehingga dengan begitu diharapakan melalui perpustakaan, Indonesia
menjadi mercusuar peradaban bangsa.
Surabaya,
6 Januari 2015
Jam
23.27 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar