Sabtu, 25 April 2015

Perpustakaan Sumber Peradaban Bangsa



Saya mengamati sekaligus  mengikuti pemberitaan atas catatan dari akun FB LPM Mercusuar terkait perpustakaan Universitas Airlangga. Sungguh hal menarik untuk ditelusuri lebih lanjut  mengingat ada isu pembatasan jam kunjung ke perpustakaan tersebut. Note dari FB LPM Mercusuar tersebut berjudul “Perpustakaan Tutup Bikin Kalut”. Sungguh berita yang sempat membuat saya kaget mengingat saya tengah proses menjadi seorang Bibliophilia, diambil dari bahasa Yunani yang artinya pecinta buku. Bagaimana saya akan menyalurkan hasrat baca yang sedang bergemuruh, jika misalnya akses menuju sumber informasi akan dibatasi. Saya pribadi belum mengkonfirmasi terkait wacana pembatasan tersebut, yang jelas mendengar adanya wacana pembatasan jam kunjung ke perpustakaan, sungguh  merupakan sebuah ironi sebuah universitas yang konon katanya bertaraf Internasional. Sebagai salah satu akademisi Universitas Airlangga, saya sempat terkejut terkait kebijakan lainnya mengenai batas maximal peminjaman buku. Saya tidak pernah paham dan mengerti rasionalisasi pembatasan jumlah maximal peminjaman buku tersebut. Hal yang perlu diketahui adalah bahwasanya tulisan ini tidak bermaksud untuk memojokkan salah satu pihak manapun. Tulisan ini hanya sebagai suatu cara saya mewakili kawan-kawan mahasiswa lainnya terkait adanya wacana pembatasan waktu berkunjung. Semoga hal tersebut hanya sekedar wacana, karena selama ini saya tengah berproses menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran mengenai segala hal.
Terkait paparan di atas, kita perlu memahami  fungsi dan peran perpustakaan dalam konteks kehidupan sekarang. Berbicara mengenai perpustakaan maka pastinya berkaitan dengan buku-buku di dalamnya, karena yang jelas selain sebagai tempat bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas, bagaimanapun juga fungsi esensial dari perpustakaan itu sendiri adalah tempat untuk membaca buku. Banyak para pendiri bangsa dan tokoh nasional seperti Sukarno, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir dan lain-lain menjadi besar karena kebiasaan dalam membaca buku. Dari situlah bisa kita lihat peran buku yang begitu luar biasa dalam mengubah corak fikir, pandangan hidup, karakter dan intelektualitas pendiri bangsa. Salah satu tokoh bangsa lainnya yang merupakan pecinta buku kelas berat yaitu Gus Dur. Tak perlu diragukan lagi kebiasaannya dalam membaca buku. Di dalam sebuah buku “The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid” karangan Greg Barton, menjelaskan bahwa selama di Mesir Gus Dur memiliki kegemaran mengunjungi berbagai perpustakaan, salah satu diantaranya yaitu perpustakaan Universitas Amerika, perpustakaan Kairo, perpustakaan Perancis dan lain sebagainya. Sejalan dengan pentingnya aktivitas membaca ada suatu ungkapan dari serorang sastrawan sekaligus penulis, Pramoedya Ananta Toer yaitu “Jika engkau ingin mengenal dunia maka membacalah”. Hal tersebut memberi suatu  kesadaran kepada setiap manusia terkait begitu pentingnya aktivitas membaca. Terkait aktivitas membaca maka pasti berhubungan dengan buku. Hal tersebut mengingat buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan. Jadi pada dasarnya aktivitas membaca berkaitan dengan transfer pengetahuan. Lantas timbul suatu pertanyaan, dimana biasanya kita bisa menemui kumpulan buku-buku sebagai acuan dalam membaca. Maka jawabannya tiada lain tiada bukan yaitu perpustakaan.
Perpustakaan hendaknya dijadikan rujukan aktivitas intelektual bagi kalangan kampus, terutama untuk mahasiswa. Ada tiga kegiatan pokok yang bisa dilakukan di perpustakaan yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Ketiga kegiatan itulah yang nantinya akan menjadikan mahasiswa pemimpin masa depan. Jika diibaratkan telaga, kita bisa meminum air kebijaksanaan dari perpustakaan tersebut. Hanya satu syarat cepatlah minum, artinya cepatlah membaca sebelum waktu menggilis semuanya. Penulis tidak akan mengupas lebih dalam terkait manfaat membaca, di sini titik fokusnya adalah terkait peran sentral perpustakaan sebagai penopang peradaban bangsa.
Mengutip tulisan Dr. Badri Yatim, M.A. sebuah buku “ Sejarah Peradaban Islam”, telah disebutkan bahwa peradaban gemilang (the golden age) Islam terkait dengan perkembangan perpustakaan kala itu, salah satu diantaranya yaitu “Bait Al-Hikmah”, salah satu perpustakaan sekaligus pusat penerjemahan di zaman Dinasti Abbasiyah.
Artinya peradaban gemilang kala itu terkait dengan berkembangnya pusat keilmuan termasuk perpustakaan. Sehingga melalui aktivitas intelektual di perpustakaan itulah lahir berbagai macam cendikiawan dan intelektual tersohor kala itu, seperi Al-fazari sebagai ahli astronom, Ibnu Sina yang ahli di bidang kedokteran, lalu ada Jabir ibnu Hayyan di bidang kimia dan masih banyak lainnya. Sejalan dengan hal itu  bisa ditelusuri lebih lanjut bahwa perpustakaan tidak hanya sebagai penyimpanan buku melainkan sebagai pusat kegiatan intelektual.
Mahasiswa sebagai poros dan penentu alur peradaban bangsa, hendaknya membangun budaya literasi yang bagus. Searah dengan hal tersebut, maka harus didukung dengan fasilitas memadai termasuk perpustakaan yang benar-benar melayani sepenuhnya bagi berkembangnya logika fikir dan ketajaman akal para generasi muda tersebut. Penulis juga menghimbau kepada setiap generasi agar menjadikan perpustakaan sebagai objek pembenahan intelektual. Artinya siapa yang hendak menambah asupan informasi dan pengetahuan hendaknya sering mengunjungi perpustakaan. Mengunjungi di sini sudah pastinya sejalan dengan aktivitas membaca. Artinya tidak hanya sekedar berkunjung apalagi “numpang ngadem”.
   Saya berharap nantinya perpustakaan-perpustakaan yang ada, khususnya di Universitas Airlangga bisa mencetak pemimpin dan intelektual yang menjadi problem solver berbagai masalah bangsa. Saya yakin nantinya perpustakaan Universitas Airlangga mencetak generasi yang cerdas dan beradab.  Perpustakaan juga diharapkan menciptakan sekaligus mencetak  rausyanfikr. Di  dalam sebuah buku karangan Eko Supeno dengan judul “Sosialisme Islam” , dinyatakan bahwa rausyanfikr adalah istilah yang sering dipakai oleh Ali Syariati, seorang tokoh revolusioner kebangsaan Iran untuk menyebutkan kalangan pemikir/ intelektual yang tercerahkan. Artinya dengan begitu perpustakaan dinanti perannya oleh berbagai kalangan untuk menciptakan intelektual yang sadar akan esensi perjuangan hidupnya.
Percayalah bahwa perpustakaan hanyalah objek. Keaktifan dari mahasiswalah yang diharapkan nantinya bisa menjadi pecandu buku sekaliber Sukarno  (Proklamator RI) atau Abraham Lincoln (Presiden AS ke 16). Sekali lagi tugas dari pihak pengelola perpustakaan adalah memberikan pelayanan terbaiknya agar mahasiswa mulai merasakan kecanduan bergelut dengan dunia kebijaksanaan/ dunia hikmah (buku). Yakinlah bahwa intensitas para mahasiswa membaca buku kemudian hari akan membentuk sikap, karakter dan kepribadian mahasiswa tersebut. Oleh karenanya dengan memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa, secara tidak langsung memberikan sumbangsih lahirnya calon-calon generasi emas, karena mahasiswa adalah salah satu agent of civilization/agen peradaban.
Pada akhirnya inti dari tulisan saya tersebut adalah bahwa perpustakaan merupakan “centre of knowladge/centre of information/centre of wisdom (pusat pengetahuan/informasi/hikmah). Jadi penulis menghimbau kepada pihak terkait agar memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa, walaupun saya rasa pelayanan selama ini tidak begitu buruk. Selanjutnya saya juga menghimbau kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh mahasiswa Airlangga agar menjadikan perpustakaan sebagai “Ruang Pembenahan Intelektual”. Sehingga nantinya diharapkan lahir generasi gemilang dengan  karakteristik atau spesifikasi kemampuan yang dimiliki. Sehingga dengan begitu diharapakan melalui perpustakaan, Indonesia menjadi mercusuar peradaban bangsa.


Surabaya, 6 Januari 2015
Jam 23.27 WIB








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...