Sekarang
aku lagi berada di Bandara King Abdul Aziz tepatnya di Kota Jeddah, Saudi Arabia. Sekarang semuanya lagi
mempersiapkan untuk kepulangan ke Indonesia. Jika ada yang bertanya bagaimana
perasaanku meninggalkan kota suci Mekkah dan Madinah, maka jawabannya adalah
sangat berat. Alasan atas jawaban tersebut adalah karena aku pribadi menemukan
sebuah ketengan ketika berada di dua kota tersebut. Seluruh pikiranku hanya
tertuju untuk beribadah kepada Allah SWT. Berat rasanya meninggalkan suasana di
kota tersebut.
Dua
minggu rasanya seperti baru dua hari aku berada di Saudi Arabia. Aktivitasku
tertuju untuk melakukan ibadah umroh dan meningkatkan ketakwaanku kepada Tuhan.
Entah kenapa waktu begitu cepat berlalu. Aku mohon kepada Tuhan untuk tidak
menjadikan kunjunganku ini sebagai kunjungan yang terakhir di dua kota suci
tersebut, melainkan akhir sementara dari sebuah kunjungan.
Banyak
inspirasi yang aku dapat selama berada di dua kota suci tersebut, diantaranya
aku bisa mengetahui bahwa Islam adalah sebuah agama yang merupakan rahmat bagi
seluruh umat manusia. Di dua kota suci tersebut aku bisa mengamati cara orang
berpakaian ketika beribadah. Satu hal yang membedakan orang Indonesia dengan
orang dari negara lain adalah pakaian yang dipakai ketika hendak sholat yaitu
sarung dan kopiah. Aku menjadi bangga menjadi manusia Nusantara karena di Saudi
Arabaia nama Indonesia bagaikan mercusuar yang amat terkenal dikalangan
masyarakat arab, mungkin karena jumlah jamaah umroh dari Indonesia yang sangat
banyak jumlahnya.
Kembali
ke sarung dan kopiah tadi, dua pakaian sholat tersebut menjadi ciri khas bangsa
kita. Jika Arab mempunyai gamis, orang Indonesia punya sarung, jika orang Arab
punya surban, orang Indonesia juga punya kopiah, jika orang arab mempunyai
gambus sebagai musik tradisonalnya, maka orang Indonesia punya dangdut sebagai
musik asli Indonesia, dan banyak lagi yang lainnya.
Jadi
hikmah yang dapat kita ambil adalah kita harus bangga menunjukkan jati diri
kita sebagai manusia asli Nusantara dengan berbagai macam kebudayaaan yang kita
miliki. Kita tidak boleh malu dalam pergaulan di dunia Internasional dengan
negara-negara lain. Aku pribadi lebih bangga memakai kopiah hitam ala Sukarno
daripada memakai surban, mungkin karena budaya yang selama ini aku anut.
Sekali
lagi aku akan pergi meninggalkan merdunya gema adzan muadzin Masjidil Haram dan
Masjid Nabawi yang suaranya begitu merdu. Sebentar lagi aku akan pergi
meninggalkan kedua masjid yang dimana manusia yang sholat di dalamnya akan mendapatkan kelipatan
derajat yang amat banyak. Aku memohon kepada Tuhanku agar aku bisa selalu
mengunjungi tempat itu lagi dan satu doaku untuk teman-temanku yang belum
pernah ke tanah suci semoga Allah memanggil kalian. Satu doaku lagi untuk
mantan-mantanku semoga Allah mengampuni
dosa-dosa mereka semua, dan semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka
semua. Sekian yang bisa saya tulis, berhubung kondisiku dalam keadaan kurang
fit, jadi untuk sementara tulisan ini akan aku akhiri. Terimaksih.
Penulis : Muhammad
Aufal F
Tidak ada komentar:
Posting Komentar