Rabu, 22 April 2015

Bandara King Abdul Aziz, 2 Februari 2014




Sekarang aku lagi berada di Bandara King Abdul Aziz tepatnya di Kota  Jeddah, Saudi Arabia. Sekarang semuanya lagi mempersiapkan untuk kepulangan ke Indonesia. Jika ada yang bertanya bagaimana perasaanku meninggalkan kota suci Mekkah dan Madinah, maka jawabannya adalah sangat berat. Alasan atas jawaban tersebut adalah karena aku pribadi menemukan sebuah ketengan ketika berada di dua kota tersebut. Seluruh pikiranku hanya tertuju untuk beribadah kepada Allah SWT. Berat rasanya meninggalkan suasana di kota tersebut.
Dua minggu rasanya seperti baru dua hari aku berada di Saudi Arabia. Aktivitasku tertuju untuk melakukan ibadah umroh dan meningkatkan ketakwaanku kepada Tuhan. Entah kenapa waktu begitu cepat berlalu. Aku mohon kepada Tuhan untuk tidak menjadikan kunjunganku ini sebagai kunjungan yang terakhir di dua kota suci tersebut, melainkan akhir sementara dari sebuah kunjungan.
Banyak inspirasi yang aku dapat selama berada di dua kota suci tersebut, diantaranya aku bisa mengetahui bahwa Islam adalah sebuah agama yang merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia. Di dua kota suci tersebut aku bisa mengamati cara orang berpakaian ketika beribadah. Satu hal yang membedakan orang Indonesia dengan orang dari negara lain adalah pakaian yang dipakai ketika hendak sholat yaitu sarung dan kopiah. Aku menjadi bangga menjadi manusia Nusantara karena di Saudi Arabaia nama Indonesia bagaikan mercusuar yang amat terkenal dikalangan masyarakat arab, mungkin karena jumlah jamaah umroh dari Indonesia yang sangat banyak jumlahnya.
Kembali ke sarung dan kopiah tadi, dua pakaian sholat tersebut menjadi ciri khas bangsa kita. Jika Arab mempunyai gamis, orang Indonesia punya sarung, jika orang Arab punya surban, orang Indonesia juga punya kopiah, jika orang arab mempunyai gambus sebagai musik tradisonalnya, maka orang Indonesia punya dangdut sebagai musik asli Indonesia, dan banyak lagi yang lainnya.
Jadi hikmah yang dapat kita ambil adalah kita harus bangga menunjukkan jati diri kita sebagai manusia asli Nusantara dengan berbagai macam kebudayaaan yang kita miliki. Kita tidak boleh malu dalam pergaulan di dunia Internasional dengan negara-negara lain. Aku pribadi lebih bangga memakai kopiah hitam ala Sukarno daripada memakai surban, mungkin karena budaya yang selama ini aku anut.
Sekali lagi aku akan pergi meninggalkan merdunya gema adzan muadzin Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang suaranya begitu merdu. Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan kedua masjid yang dimana manusia yang  sholat di dalamnya akan mendapatkan kelipatan derajat yang amat banyak. Aku memohon kepada Tuhanku agar aku bisa selalu mengunjungi tempat itu lagi dan satu doaku untuk teman-temanku yang belum pernah ke tanah suci semoga Allah memanggil kalian. Satu doaku lagi untuk mantan-mantanku semoga Allah mengampuni  dosa-dosa mereka semua, dan semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka semua. Sekian yang bisa saya tulis, berhubung kondisiku dalam keadaan kurang fit, jadi untuk sementara tulisan ini akan aku akhiri. Terimaksih.

Penulis : Muhammad Aufal F

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...