Jumat, 12 September 2014

Sekilas Cerita di Tanah Suci



 Mekkah, 31 Januari 2014
Alhamdulilah segala puji bagi Allah, hampir dua pekan aku berada di Saudi Arabia. Banyak hal yang kutemui, banyak pengalaman yang ku dapatkan. Aku tidak mau ini hanya sekedar ibadah umroh tanpa esensi namun lebih dari itu membawa dampak positid dalam kehidupanku terutama dalam hubunganku dengan Allah SWT.
Aku berharap dari segi spritual, setelah kepulanganku ke Indonesia nanti bisa membawa banyak perubahan, salah satunya mengenai ketepatan waktu dalam melaksanakan ibadah sholat lima waktu dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa berjamaah, selain itu aku berharap nantinya benar-benar menjadi pribadi yang senantiasa menauladani sifat, sikap, dan karakter baginda Rasulullah SAW sekaligus mengamalkan sunnah-sunnahnya.
Ada empat sifat Nabi  yang nantinya akan aku contoh setelah melakukan spritual journey  ke makam beliau pekan yang lalu,sifat tersebut yaitu, 1. Siddiq (benar) artinya aku akan berusaha semaksimal mungkin menjadi pribadi yang senantiasa berkata dan berlaku benar kapanpun dan dimanapun aku berada, artinya berusaha menjadi pribadi yang jujur 2. Amanah (dapat dipercaya) atinya aku akan berusaha semaksimal mungkin agar nantinya bisa mengemban amanah/ tanggung jawab/ kewajiban yang dilimpahkan kepadaku 3. Tabligh (menyapaikan), artinya aku akan berusaha menjadi pribadi yang konsisten menyampaikan kebaikan dan mengajaka orang lain ke arah kebaikan 4. Fathonah (cerdas) artinya aku akan berusaha semaksimal mungkin menjadi pribadi yang mencintai ilmu  dan pengetahuan serta menjadi muslim yang haus akan ilmu pengetahuan terutama ilmu agama, intinya aku berikhtiar menjadi pribadi yang pintar dan cerdas dama segala hal, agar suatu saat nanti menjadi orang yang berguna bagi, nusa dan bangsa.
Itulah salah satu target indikator perubahan pribadiku sebelum dan sesudah umroh, karena aku berfikir percuma umroh lebih dari satu kali jika tidak ada perubahan yang berarti dalam hidupku.
Selain target di atas, aku ingin menceritakan banyak hal selama di sini, semoga ceritaku ini membawa manfaat serta inspirasi kepada teman-teman semua.
Cerita yang pertama mengenai gadis Turki yang aku jumpai di Jamal Rahmah,secara tidak sengaja dia pinjam alat tulisku, lalu kamipun berkenalan, namanya kalau tidak salah Maria. Perlu diketahui itu mungkin nama pendeknya, nama panjangnya aku lupa, terlalu ribet.
Sejenak ku perhatikan penampilannya, dia terlihat seperti muslimah sosialita ala Turki. Sungguh menakjubkan, dia seperti perpaduan keanggunan wanita Eropa dengan kecantikan gadis Timur Tengah, berlebihan memang, ya begitulah diriku, kadang bisa berlebihan memandang wanita. Segera kuhapus fikiran tentang dia waktu itu, karena aku sadar ini bukan waktunya ngerayu cewek, meskipun pada waktu itu tempat dan dan kondisi sangat memungkinkan untuk melakukan itu semua (berdiskusi maksdudnya). Kami ngobrol memakai bahasa Inggris, kebetulan waktu itu dia ngobrolnya pelan, coba temponya agak cepat mungkin aku perlu cari kamus dulu atau buka google translate. Memaang kemampuan bahasa Ingggrisku belum seberapa, namun entah kenapa ketika ngobrol sama cewe, vocabulary yang dulu lupa seakan aka semuanya terekam dan bisa keingat kemabali, terkadang aku berfikir apakah skenario setan sampe sebegitunya untuk mendekatkanku dengan gadis itu, entahlah yang jelas aku adalah pengagum keindahan, terutama keindahan wanita (jangan berfikir jorok ya).
Aku mengagumi semua yang  Tuhan ciptakan ke dunia ini, sungguh luar biasa gunung-gunung yang menjulang tinggi ke angkasa, salah satunya Gunung Elbrus di Eropa, Gunung Kilimanjaro di Afrika, Sungai Nil di Mesir, Api tak kunjung padam di pamekasan (yang terakhir begitu luar biasa, karena letaknya di tempat tinggal penulis, hehhe) dan msih banyak lagi ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa salah satunya tadi kecantikan wanita, SubhanaAllah.
Kembali lagi ke gadis Turki tadi, sebanarnya kami tidak lama ngobrol, cuma di sini wanita tersebut memberikan suatu inspirasi untuk benar-benar menguasai bahasa Inggris serta memahaminya.
Cerita kedua mengenai seorang pria asal Pakistan, kebetulan selama di Mekkah aku sering menjumpai Pria asal Pakistan, ceritanya berawal ketika aku sedang duduk-duduk di Masjidil Haram, tiba-tiba pria tersebut menghampiri seakan akan aku teman lamanya, dia kelihatan sok akrab, padahal sama sekali baru kenal, dia menanyakan dengan bahsa Inggris apakah aku orang Indonesia, ya aku jawab “ i come from Indonesia”, setelah itu dia bercerita pendidikannya selama di Mekkah, padahal aku tidak bertanya. Berhubung orangnya asyik, ya aku ladenin ngobrol, aku juga menjelaskan bahwa aku kuliah di Universitas Airlangga jurusan ekonomi. Oh ya jurusannya pria tersebut adalah ilmu sejarah dia ngambil S2, aku lupa nama universitasnya.
Setelah lama ngobrol, tiba-tiba dia bilang lagi butuh uang, kebetulan waktu itu uangku lagi di hotel, yang aku herankan adalah dia ngobrol panjang lebar tapi UUD (ujung-ujungnya duit), cerdas juga tuh pria pakistan, MasyaAllah.
Cerita ketiga mengenai Orang Italia, tapi kali ini pria tersebut lebih banyak ngobrol dengan bapakku, kebetulan bapakku juga bisa berbahasa Inggris meskipun tidak semahir anaknya (just kidding). Aku mendengarkan percakapan mereka berdua pria tersebut awalnya menyapa memakai bahasa Arab yaitu “Syukron”, artinya terimakasih karena pada waktu itu aku meberikan kurma padanya, tetatapi karena dia mengetahui kami dari Indonesia orang tersebut berkata lagi “terimakasih”, kemudian mereka berdua ngobrol, dan aku menjadi pendengar setianya, intinya pria tersebut bercerita dia pernah bekerja di Indonesia, selama 2 tahun di Jakarta tepatnya di salah satu perusahaan air minum. Dia sangat menyukai Indonesia, dia bercerita Bali dan Lombok sangat indah. Aku yang pda waktu itu mendengarkan dia memuji Indonesia, ada kebanggaan tersendiri bagiku.
Cerita yang keempat mengenai salah seorang  pria yang tiak jelas asal usulnya tapi kalau dari potongannya dia orang Timur Tengah, dia sering sekali ke Indonesia dan cukup lancar berbahasa Indonesia meskipun dengan nada lambat dan logat arabnya, pria tersebut bernama Jalaluddin, dia tinggal di Mekkah dan bekerja sebagai salah satu pengajar hadis di sebuah lembaga, pria ini amat lucu dan cukup ramah orangnya, suka becanda, buktinya aku mau balik ke hotel dia masih tertawa mengajak ngobrol lebih banyak tentang Indonesia, karena pada waktu itu ngobrol memakai bahasa Indonesia. Dia juga memuji keindahan alam Indonesia yang amat mempesona, kebetulan dia sering ke Indonesia.
Masih banyak cerita lainnya yang tersimpan dalam benakku, berhubung waktu sudah larut malam, aku harus istrahat untuk siap-siap melakukan Thawaf  Wada` besok pagi. Semoga yang aku sampaikan membawa inspirasi tersendiri bagi kawan-kawan. Aku berharap suatu saat nanti Turki, Palestina, Mesir, Jerman dan semua negara yang mempunyai keindahan alam serta nilai sejarah bisa aku kunjungi, karena dengan begitu aku bisa meningkatkan rasa syukurku kepada Tuhan. Namun dari sekian banyak kota-kota mempesona nan elok di dunia ini, Mekkah dan Madinah tetap yang paling mempesona dan mempunyai keanggunan tersendiri dengan begitu inilah awal mimpiku yang kucatatakan di Tanah Haram ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...