Mekkah,
31 Januari 2014
Alhamdulilah segala puji
bagi Allah, hampir dua pekan aku berada di Saudi Arabia. Banyak hal yang
kutemui, banyak pengalaman yang ku dapatkan. Aku tidak mau ini hanya sekedar
ibadah umroh tanpa esensi namun lebih dari itu membawa dampak positid dalam
kehidupanku terutama dalam hubunganku dengan Allah SWT.
Aku berharap dari segi
spritual, setelah kepulanganku ke Indonesia nanti bisa membawa banyak
perubahan, salah satunya mengenai ketepatan waktu dalam melaksanakan ibadah
sholat lima waktu dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa berjamaah, selain
itu aku berharap nantinya benar-benar menjadi pribadi yang senantiasa
menauladani sifat, sikap, dan karakter baginda Rasulullah SAW sekaligus
mengamalkan sunnah-sunnahnya.
Ada empat sifat Nabi yang nantinya akan aku contoh setelah
melakukan spritual journey ke makam beliau pekan yang lalu,sifat tersebut
yaitu, 1. Siddiq (benar) artinya aku akan berusaha semaksimal mungkin menjadi
pribadi yang senantiasa berkata dan berlaku benar kapanpun dan dimanapun aku
berada, artinya berusaha menjadi pribadi yang jujur 2. Amanah (dapat dipercaya)
atinya aku akan berusaha semaksimal mungkin agar nantinya bisa mengemban
amanah/ tanggung jawab/ kewajiban yang dilimpahkan kepadaku 3. Tabligh
(menyapaikan), artinya aku akan berusaha menjadi pribadi yang konsisten
menyampaikan kebaikan dan mengajaka orang lain ke arah kebaikan 4. Fathonah
(cerdas) artinya aku akan berusaha semaksimal mungkin menjadi pribadi yang
mencintai ilmu dan pengetahuan serta
menjadi muslim yang haus akan ilmu pengetahuan terutama ilmu agama, intinya aku
berikhtiar menjadi pribadi yang pintar dan cerdas dama segala hal, agar suatu
saat nanti menjadi orang yang berguna bagi, nusa dan bangsa.
Itulah salah satu target
indikator perubahan pribadiku sebelum dan sesudah umroh, karena aku berfikir
percuma umroh lebih dari satu kali jika tidak ada perubahan yang berarti dalam
hidupku.
Selain target di atas,
aku ingin menceritakan banyak hal selama di sini, semoga ceritaku ini membawa
manfaat serta inspirasi kepada teman-teman semua.
Cerita yang pertama
mengenai gadis Turki yang aku jumpai di Jamal Rahmah,secara tidak sengaja dia
pinjam alat tulisku, lalu kamipun berkenalan, namanya kalau tidak salah Maria.
Perlu diketahui itu mungkin nama pendeknya, nama panjangnya aku lupa, terlalu
ribet.
Sejenak ku perhatikan
penampilannya, dia terlihat seperti muslimah sosialita ala Turki. Sungguh
menakjubkan, dia seperti perpaduan keanggunan wanita Eropa dengan kecantikan
gadis Timur Tengah, berlebihan memang, ya begitulah diriku, kadang bisa
berlebihan memandang wanita. Segera kuhapus fikiran tentang dia waktu itu,
karena aku sadar ini bukan waktunya ngerayu cewek, meskipun pada waktu itu
tempat dan dan kondisi sangat memungkinkan untuk melakukan itu semua (berdiskusi
maksdudnya). Kami ngobrol memakai bahasa Inggris, kebetulan waktu itu dia
ngobrolnya pelan, coba temponya agak cepat mungkin aku perlu cari kamus dulu
atau buka google translate. Memaang kemampuan bahasa Ingggrisku belum seberapa,
namun entah kenapa ketika ngobrol sama cewe, vocabulary yang dulu lupa seakan
aka semuanya terekam dan bisa keingat kemabali, terkadang aku berfikir apakah
skenario setan sampe sebegitunya untuk mendekatkanku dengan gadis itu, entahlah
yang jelas aku adalah pengagum keindahan, terutama keindahan wanita (jangan
berfikir jorok ya).
Aku mengagumi semua
yang Tuhan ciptakan ke dunia ini,
sungguh luar biasa gunung-gunung yang menjulang tinggi ke angkasa, salah
satunya Gunung Elbrus di Eropa, Gunung Kilimanjaro di Afrika, Sungai Nil di
Mesir, Api tak kunjung padam di pamekasan (yang terakhir begitu luar biasa,
karena letaknya di tempat tinggal penulis, hehhe) dan msih banyak lagi ciptaan
Tuhan yang begitu luar biasa salah satunya tadi kecantikan wanita,
SubhanaAllah.
Kembali lagi ke gadis Turki
tadi, sebanarnya kami tidak lama ngobrol, cuma di sini wanita tersebut
memberikan suatu inspirasi untuk benar-benar menguasai bahasa Inggris serta
memahaminya.
Cerita kedua mengenai
seorang pria asal Pakistan, kebetulan selama di Mekkah aku sering menjumpai
Pria asal Pakistan, ceritanya berawal ketika aku sedang duduk-duduk di Masjidil
Haram, tiba-tiba pria tersebut menghampiri seakan akan aku teman lamanya, dia
kelihatan sok akrab, padahal sama sekali baru kenal, dia menanyakan dengan bahsa
Inggris apakah aku orang Indonesia, ya aku jawab “ i come from Indonesia”, setelah itu dia bercerita pendidikannya
selama di Mekkah, padahal aku tidak bertanya. Berhubung orangnya asyik, ya aku
ladenin ngobrol, aku juga menjelaskan bahwa aku kuliah di Universitas Airlangga
jurusan ekonomi. Oh ya jurusannya pria tersebut adalah ilmu sejarah dia ngambil
S2, aku lupa nama universitasnya.
Setelah lama ngobrol,
tiba-tiba dia bilang lagi butuh uang, kebetulan waktu itu uangku lagi di hotel,
yang aku herankan adalah dia ngobrol panjang lebar tapi UUD (ujung-ujungnya
duit), cerdas juga tuh pria pakistan, MasyaAllah.
Cerita ketiga mengenai
Orang Italia, tapi kali ini pria tersebut lebih banyak ngobrol dengan bapakku,
kebetulan bapakku juga bisa berbahasa Inggris meskipun tidak semahir anaknya (just kidding). Aku mendengarkan
percakapan mereka berdua pria tersebut awalnya menyapa memakai bahasa Arab
yaitu “Syukron”, artinya terimakasih
karena pada waktu itu aku meberikan kurma padanya, tetatapi karena dia
mengetahui kami dari Indonesia orang tersebut berkata lagi “terimakasih”,
kemudian mereka berdua ngobrol, dan aku menjadi pendengar setianya, intinya
pria tersebut bercerita dia pernah bekerja di Indonesia, selama 2 tahun di
Jakarta tepatnya di salah satu perusahaan air minum. Dia sangat menyukai
Indonesia, dia bercerita Bali dan Lombok sangat indah. Aku yang pda waktu itu
mendengarkan dia memuji Indonesia, ada kebanggaan tersendiri bagiku.
Cerita yang keempat
mengenai salah seorang pria yang tiak
jelas asal usulnya tapi kalau dari potongannya dia orang Timur Tengah, dia
sering sekali ke Indonesia dan cukup lancar berbahasa Indonesia meskipun dengan
nada lambat dan logat arabnya, pria tersebut bernama Jalaluddin, dia tinggal di
Mekkah dan bekerja sebagai salah satu pengajar hadis di sebuah lembaga, pria
ini amat lucu dan cukup ramah orangnya, suka becanda, buktinya aku mau balik ke
hotel dia masih tertawa mengajak ngobrol lebih banyak tentang Indonesia, karena
pada waktu itu ngobrol memakai bahasa Indonesia. Dia juga memuji keindahan alam
Indonesia yang amat mempesona, kebetulan dia sering ke Indonesia.
Masih banyak cerita
lainnya yang tersimpan dalam benakku, berhubung waktu sudah larut malam, aku
harus istrahat untuk siap-siap melakukan Thawaf
Wada` besok pagi. Semoga yang aku sampaikan membawa inspirasi tersendiri
bagi kawan-kawan. Aku berharap suatu saat nanti Turki, Palestina, Mesir, Jerman
dan semua negara yang mempunyai keindahan alam serta nilai sejarah bisa aku
kunjungi, karena dengan begitu aku bisa meningkatkan rasa syukurku kepada
Tuhan. Namun dari sekian banyak kota-kota mempesona nan elok di dunia ini,
Mekkah dan Madinah tetap yang paling mempesona dan mempunyai keanggunan
tersendiri dengan begitu inilah awal mimpiku yang kucatatakan di Tanah Haram
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar