Selasa, 09 September 2014

Hikmah di Balik Potret Sejarah Nusantara




Indonesia adalah negara besar dengan berjuta-juta penduduk yang tinggal di dalamnya yaitu sekitar 237 juta jiwa pada tahun 2010, selain itu berbagai macam suku dan ras mendiami negri tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara dengan ribuan pulau yang berjejer di dalamnya dari Sabang sampai Merauke dan merupakan sebuah negri dengan kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 13.487 pulau oleh karena itu sering disebut dengan Nusantara ,negri tersebut berada antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia serta antara Benua Asia dan Benua Australia. Kata “Indonesia” sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu Indus yang berarti “Hindia” dan kata dalam Bahasa Yunani nesos yang berarti “pulau” jadi kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan.Indonesia merupakan sebuah negara dengan berlimpah-limpah sumber daya alam yang Allah berikan kepada negri tersebut baik itu sumber daya mineral,pertambangan,batu bara,minyak mentah,fauna,flora dan lain sebagainya.Secara logika dengan sumber daya alam yang melimpah,seharusnya kesejahteraan masyarakat mudah untuk didapatkan di negri ini namun realita berbiacara lain, masih banyak masalah yang terjadi di bumi ibu pertiwi ini ,diantaranya masalah di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan sebagainya. Permasalahan bukan untuk ditakuti melainkan untu dipecahkan, sebagai bangsa yang besar negri ini sudah selayaknya kembali melihat akan masa lalu yang pernah terjadi,hal tersebut akan menjadikan suatu pembelajaran yang berharga untuk menatap masa depan yang lebih cerah.
Ada suatu istilah yang mengatakan bahwasanya bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan Proklamator negri inipun berpesan kepada bangsa ini agar  tidak melupakan sejarahnya. Mengingat begitu pentingnya arti sejarah bangsa ini,sudah selayaknya kita tidak lagi mengabaikan dan meremehkan tentang makna dari sejarah itu sendiri,karena dengan memahami sejarah hidup manusia bisa lebih bijaksana sekaligus menjadi manusia yang arif dalam menjalani hidup,dengan memaknai sejarah bangsa kita juga bisa mengambil nilai-nilai kebaikan/moralitas baik itu tentang keadilan, gotong royong, semangat perjuangan dan lain-lain sebagai alternatif untuk memecahkan permasalahan bangsa yang semakin kompleks. Salah satu potret masa lalu bangsa ini yaitu tentang kejayaan Negri Nusantara ketika Kerajaan Sriwijaya yang terletak di wilayah sumatra bagian selatan tepatnya di tepi Sungai Musi sekitar kota Palembang memerintah negri ini,kerajaan tersebut sangatlah terkenal bahkan seantero Asia dan dunia.Raja-raja yang pernah memerintah anatara lain Dapunta Hyang ,Balaputra Dewa,dan Sanggrama Wijayatunggawarman. Selain Kerajaan Sriwijaya adalagi sebuah Kerajaan yang terkenal sentero nusantara bahkan tingkat asia yaitu Kerajaan Majapahit yang terletak di daerah Jawa dan raja-raja yang pernah memimpin kerajaan tersebut diantaranya Raden Wijaya, Srijayanegara, Tribhuwanatunggadewi, Hayam Wuruk, Wikramawardhana.
Selain kedua kerjaan di atas masih banyak lagi kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu Budha yang pernah mendiami republik ini. Adanya kedua kerajaan tersebut merupakan salah satu bukti bahwa Nusantara merupakan negri yang pernah jaya pada masa lalu,sebagai seorang manusia apalagi sebagai mahasiswa sudah sepatutnya kita tidak merasa inferior di tengah-tengah pergaulan Internasional dengan bangsa lain. Rasa rendah diri itu salah satunya disebabkan oleh terjadinya Penjajahan selama 3,5 Abad oleh bangsa Belanda dan 3,5  tahun oleh bangsa Jepang, jadi mental manusia-manusia Indonesia selayaknya harus ditata lagi agar tidak menjadi manusia yang mudah mengeluh dan menyerah dengan keadaan.
Selain kerajaan bercorak Hindu Buddha di atas,kerjaan-kerajaan Islam juga ikut mewarnai perjalanaan bangsa ini di antaranya Kerajaan Semudra Pasai di pantai timur Pulau Sumtra, Kerajaan Demak di Jawa Tengah, Kerajaan Banten di daerah Banten dan lain sebagainya.
Raja-raja yang memimpin kerajaan bercorak Islam dan Hindu Buddha pada saat itu terkenal akan kebijaksanaan dan kearifannya seperti Raja Iskandar Muda yang memimpin kerajaan Aceh, Raja Balaputradewa yang memimpin Kerajaan Sriwijaya, Sultan Ageng Tirtayasa yang memimpin Kerajaan Banten, Raden Patah yang pernah memimpin Kerajaan Demak dan lain sebagainya. Hal itu seharusnya menjadi sebuah pembelajaran yang penting bagi calon penerus estafet kepemimpinan bangsa ini ditengah permasalahan krisis kepemimpin dan degradasi moral yang tengah terjadi di tengah-tengah kita terutama bagi setiap kader HmI.
Setelah masa kerajaan telah usai datanglah para penjajah dari barat yang mengeksplotasi segala macam sumberdaya alam di Nusantara terutama Belanda dengan kongsi dagangnya yang bernama VOC (Vereenigde Oost indesche Compagnie)  yang selalu merugikan masyarakat Indonesia pada waktu itu,terutama dengan hak Oktroi yang mereka miliki yaitu hak-hak Istimewa yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada VOC.Adapun isi dari hak oktroi antara lain hak untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah, hak untuk memelihara angkatan perang, hak untuk memerintah wilayah yan diduduki, hak untuk mencetak uang, hak untuk melakukan perjanjian dengan raja-raja di Indonesia, dan hak untuk membantu keuangan pemerintah Belanda.
Selain hak Oktroi tadi Belanda juga menerapkan sistem tanam paksa untuk menindas rakyat Indonesia, yaitu sistem pelaksanaan proyek penanaman dilakukan dengan cara-cara paksa dan bagi yang melanggar dihukum fisik. Ketentuan pokok sistem tanam paksa terdapat dalam Staatblad (Lembaran Negara) tahun 1834 nomor 22 yang berisi hal-hal berikut: 1. Setiap petani diwajibkan menyerahkan seperlima  dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang hasilnya laku di pasar Eropa seperti kopi, nila tebu, tembakau, dan teh 2. Tanah yang diserahkan kepada pemerintah tidak dikenai pajak 3. Jika hasil tanaman yang diserahkan kepada pemerintah melebihi pajak, maka kelebihan tersebut akan dikembalikan kepada petani 4. Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tanah tidak boleh melebihi waktu untuk menanam padi 5. Penduduk yang tidak memiliki tanah,wajib bekerja di perkebunan Belanda selama 65 hari 6. Kerusakan tanaman karena bencana alam ditanggung oleh pemerintah 7. Pelaksanaan tanam paksa diserahkan kepada pemimpin-pemimpin pribumi dan pegawai Eropa bertindak sebagai pengawas.
Pada kenyataannya sistem tanam paksa tidak sesuai dengan aturan tersebut, banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oeh pihak Belanda seperti kerusakan tanaman tetap ditanggung oleh petani, kelebihan hasil tidak dikembalikan kepada petani dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat rakyat Indonesia semakin sengsara sehingga muncullah kritik dari intelektual Belanda terhadap praktik liberal kolonial yang menyebutkan pihak Belanda berhutang kehormatan kepada bangsa Indonesia, menurut Van Deventer pembayaran utang tersebut dapat dilakukan dengan melakukan tiga hal (Trilogi Van Deventer) atau biasa disebut politik etis/politik balas budi,yang isinya yaitu irigasi (pengairan), Edukasi (pendidikan), dan emigrasi (perpindahan penduduk).
Serangkaian peristiwa di atas merupakan sebagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia sebelum mencapai kemerdekaan,masih banyak peristiwa-peristiwa berserah lainnya yang patut untuk diketahui bagi manusia-manusia Indonesia yang menginginkan kehidupannya lebih bermakna lagi. Rentetan sejarah kejayaan dan keterpurukan bangsa Indonesia merupakan sebuah bukti bagaimana rakyat Indonesia pada masa lalu benar-benar menderita akibat penjajahan dan juga pernah mengalame golden age (masa keemasan) ,setelah merdekapun bangsa Indonesia harus menghadapi berbagai macam peperangan untuk mempertahankan kemerdekaanya. Hal yang patut untuk diambil pelajaran bagi manusia yang hidup di era modern saat ini yaitu mengenai pengorbanan yang tulus dan tanpa pamrih rakyat Indonesia demi bangsanya untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik, hubungannya dengan mahasiswa Indonesia yaitu sebagai insan yang baik maka sudah selayaknya kita tidak bersifat individualis atau lebih mementingkan kepentingan masyarakat banyak atau kepentingan bangsa dan negara ,selain itu sebagai calon pemimpin kita seharusnya bisa mengambil semangat juang para pahlawan bangsa dengan cara sungguh-sungguh dalam proses pembelajaran di bangku kuliah sehingga suatu saat nanti kita bisa memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Kesimpulannya adalah dengan memaknai sejarah bangsa,maka manusia-manusia Indonesia terutama  para mahasiswa di tanah air akan bisa membentuk karakter dirinya sendiri yaitu karakter yang benar-benar bersumber dari hati nurani, karena perenungan akan sebuah sejarah akan menimbulkan gelora jiwa yang berapi-api disetiap manusia Indonesia yang jiwanya tersentuh, dan hal tersebut bisa menjadi penentu bagi manusia tersebut bagaimana seharusnya dia bertindak dan melangkah dalam menjalankan kehidupannya di negri ini. Hal iu juga akan menyebabkan manusia tersebut bisa menjadi problem solver bagi permasalahan yang melilit bangsa ini bukan menjadi problem maker.
By : AUFAL F
Terimaksih.............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...