Warna-warni
kehidupan seakan membius kehidupan manusia, segala materi yang datang dan pergi
dalam hidupnya masih belum menyadarkanya
tentang siapa pemilik sejati dari harta tersebut. Indahnya hidup di dunia
diartikan dengan berbagai macam versi menurut kepercayaan manusia itu sendiri,
tiada dipungkiri juga faktor agama sangat
berperan penting dalam menentukan sikap dan cara seorang manusia dalam
menjalani hari-harinya dalam hidup ini, terutama manusia yang beragama Islam. Islam
juga mengajarkan bagaimana hendaknya seorang manusia memanfaatkan setiap momen
dalam kehidupannya. Islam mengajarkan kepada manusia bahwasanya hidup di dunia
ini bersifat sementara dan yang abadi adalah kehidupan di hari akhirat kelak.. Meskipun
Islam mengingatkan manusia agar selalu
ingat akan adanya hari pembalasan, hal itu seakan tidak menjadi sebuah
peringatan penting bagi manusia itu sendiri, bukti kongkretnya banyak
manusia-manusia yang melakukan tindakan-tindakan di luar koridor ajaran agama Islam,
contoh tindakan manusia yang menyimpang dan menyalahi aturan agama yaitu
seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, minum-minuman keras, korupsi dan
lain sebagainya. Perbuatan yang mereka lakukan dianggap hal yang sepele bagi
mereka seakan-akan tidak ada yang mencatat perbuatan buruk mereka, padahal
Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Roqib dan Atid untuk selalu mencatat
segala perbuatan baik dan buruk manusia selam hidup di dunia ini. Oleh sebab
itu hendaknya manusia lebih memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan amal
kebajikan.
Nabi
sendiri selalu mewanti-wanti kepada seluruh umat manusia agar memanfaatkan 5
perkara sebelum 5 perkara dalam menjalani hidupnya yaitu antara lain waktu kaya
sebelum waktu miskin, waktu luang sebelum datangnya waktu sibuk, waktu muda
sebelum datangnya waktu tua,waktu sehat sebelum datangnya waktu sakit, dan
waktu hidup sebelum datangnya kematian. Pesan Nabi tersebut mengandung sebuah
makna filosofis yaitu sesungguhnya di dunia ini tidak ada keabadian selain
Allah SWT, karena Allah merupakan Pencipta alam jagat raya ini beserta isinya
termasuk manusia sebagai makhluk hidup, sedangkan
yang namanya makhluk hidup mempunyai sebuah karakteristik yang melekat
pada dirinya yaitu dia tidak akan hidup abadi di alam semesta ini, dia pasti
akan mengelami sebuah kematian, bagi manusia yang dinamakan kematian, bukanlah
akhir dari segala-galanya dalam kehidupan ini, artinya ketika manusia mati
bukan berati dia telah hilang dan tiada lagi dalam sebuah kehidupan ini, jadi
kematian itu sendiri sebagai sebuah awal dari proses bagi manusia untuk menuju
kehidupan yang kekal nanti jadi intinya kematian hakikatnya hanya sebuah
stasiun dalam perjalanan dari sebuah
Seorang
manusia harus bisa mengatur dan memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang
membawa kepada kebahagiaan sejati, manusia
harus bisa menghidar dari hal-hal yang dapat memboroskan waktu yang dimilik, karena sesungguhnya waktu yang telah
lewat tidak akan pernah kembali lagi dan umur seorang manusia akan terus
berkurang seiiring berjalannya waktu. Allah telah menegaskan bahwa manusia pasti akan
merugi kalau tidak memperhatikan waktunya, kecuali 4. golongan, yaitu antara
lain : 1. Orang yang beriman 2. Orang yang beramal Shaleh 3. Orang yang menasehati
dalam kebenaran 4. orang yang menasehati
dalam kesabaran. Empat hal tersebut merupakan isi dari ayat Al-quran surah
Al-Ashr ayat 1-3. Nabi juga juga berpendapat, rata-rata umur umatnya sekitar 60
tahun, waktu kita sama dalam sehari 24 jam, sehingga cara kita menggunakan
waktu yang kita miliki itulah yang membuat kita berbeda.
Solihin
Abu Izzudin dalam bukunya” Zero To Hero “
mengatakan ada tiga hal yang tak pernah kita dapatkan kembali yaitu : 1. Kata
yang telah diucapkan 2. Waktu yang telah lewat 3. Momentum yang diabaikan. Jadi
dari situ kita bisa mengambil suatu hikmah bahwa apa yang kita lakukan dan
waktu yang telah berlalu tiada bisa kita ulangi lagi, oleh karena itu di setiap
momen dalam kehidupan yang fana ini kita sungguh-sungguh memanfaatkannya dengan
sebaik mungkin, karena pada akhirnya di pengadilan akhirat nanti semua yang
kita perbuat akan dimintai keterangan dan tanggung jawabnya.
Waktu
juga dibagi menjadi tiga bagian, pertama waktu
yang lalu dimana waktu tersebut
bukanlah menjadi milik kita lagi dan
kita tiada bisa merubah segala kejadian, peristiwa dan momen yang ada
pada waktu tersebut, semuanya telah menjadi sejarah bagi hidup kita
masing-masing. Kedua yaitu waktu yang akan datang, dimana kita tidak bisa
memprediksi segala peristiwa yang terkait dengan waktu tersebut karena semuanya
menjadi rahasia Tuhan, manusia hanya bisa mengharapkan masa depan yang terbaik
baginya, yang ketiga adalah waktu saat ini, yaitu waktu dimana kita berada dan
bisa melakukan berbagai hal dalam hidup kita.seorang manusia haruslah bijaksana
dalam menyikapi tiga dimensi waktu tersebut, denga cara melihat kembali masa
lalunya dan berbagai kesalahan dan perbuatan dosa yang di lakukan pada waktu
tersebut dijadikan sebuah pelajaran berharga untuk intropeksi memperbaiki diri
kita, sementara itu waktu yang ada sekarang kita benar-benar optimalkan sebaik
mungkin untuk menimba ilmu dan
mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, di sisi lain kita menjadikan masa
depan atau waktu yang akan datang sebagai sebuah harapan bagi kita untuk
merealisasikan mimpi kita.
Kesimpulannya
adalah sebagai manusia dengan anugerah waktu yang telah Tuhan berikan kepada
kita, maka hendaknya kita memanfaatkannya dengan bijak untuk melakukan
kebajikan sebagai bekal sekaligus persiapan menuju alam yang abadi yaitu
akhirat.
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi
Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM
Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi
Komisariat Ekonomi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar