Selasa, 09 September 2014

Sang Waktu



Warna-warni kehidupan seakan membius kehidupan manusia, segala materi yang datang dan pergi dalam hidupnya  masih belum menyadarkanya tentang siapa pemilik sejati dari harta tersebut. Indahnya hidup di dunia diartikan dengan berbagai macam versi menurut kepercayaan manusia itu sendiri, tiada dipungkiri juga faktor agama  sangat berperan penting dalam menentukan sikap dan cara seorang manusia dalam menjalani hari-harinya dalam hidup ini, terutama manusia yang beragama Islam. Islam juga mengajarkan bagaimana hendaknya seorang manusia memanfaatkan setiap momen dalam kehidupannya. Islam mengajarkan kepada manusia bahwasanya hidup di dunia ini bersifat sementara dan yang abadi adalah kehidupan di hari akhirat kelak.. Meskipun Islam  mengingatkan manusia agar selalu ingat akan adanya hari pembalasan, hal itu seakan tidak menjadi sebuah peringatan penting bagi manusia itu sendiri, bukti kongkretnya banyak manusia-manusia yang melakukan tindakan-tindakan di luar koridor ajaran agama Islam, contoh tindakan manusia yang menyimpang dan menyalahi aturan agama yaitu seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, minum-minuman keras, korupsi dan lain sebagainya. Perbuatan yang mereka lakukan dianggap hal yang sepele bagi mereka seakan-akan tidak ada yang mencatat perbuatan buruk mereka, padahal Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Roqib dan Atid untuk selalu mencatat segala perbuatan baik dan buruk manusia selam hidup di dunia ini. Oleh sebab itu hendaknya manusia lebih memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan amal kebajikan.
Nabi sendiri selalu mewanti-wanti kepada seluruh umat manusia agar memanfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara dalam menjalani hidupnya yaitu antara lain waktu kaya sebelum waktu miskin, waktu luang sebelum datangnya waktu sibuk, waktu muda sebelum datangnya waktu tua,waktu sehat sebelum datangnya waktu sakit, dan waktu hidup sebelum datangnya kematian. Pesan Nabi tersebut mengandung sebuah makna filosofis yaitu sesungguhnya di dunia ini tidak ada keabadian selain Allah SWT, karena Allah merupakan Pencipta alam jagat raya ini beserta isinya termasuk manusia sebagai makhluk hidup,  sedangkan yang namanya makhluk  hidup  mempunyai sebuah karakteristik yang melekat pada dirinya yaitu dia tidak akan hidup abadi di alam semesta ini, dia pasti akan mengelami sebuah kematian, bagi manusia yang dinamakan kematian, bukanlah akhir dari segala-galanya dalam kehidupan ini, artinya ketika manusia mati bukan berati dia telah hilang dan tiada lagi dalam sebuah kehidupan ini, jadi kematian itu sendiri sebagai sebuah awal dari proses bagi manusia untuk menuju kehidupan yang kekal nanti jadi intinya kematian hakikatnya hanya sebuah stasiun dalam perjalanan dari sebuah
Seorang manusia harus bisa mengatur dan memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang membawa  kepada kebahagiaan sejati, manusia harus bisa menghidar dari hal-hal yang dapat memboroskan waktu yang  dimilik, karena sesungguhnya waktu yang telah lewat tidak akan pernah kembali lagi dan umur seorang manusia akan terus berkurang seiiring berjalannya waktu. Allah  telah menegaskan bahwa manusia pasti akan merugi kalau tidak memperhatikan waktunya, kecuali 4. golongan, yaitu antara lain : 1. Orang yang beriman 2. Orang yang beramal Shaleh 3. Orang yang menasehati dalam kebenaran  4. orang yang menasehati dalam kesabaran. Empat hal tersebut merupakan isi dari ayat Al-quran surah Al-Ashr ayat 1-3. Nabi juga juga berpendapat, rata-rata umur umatnya sekitar 60 tahun, waktu kita sama dalam sehari 24 jam, sehingga cara kita menggunakan waktu yang kita miliki itulah yang membuat kita berbeda.
Solihin Abu Izzudin dalam bukunya” Zero To Hero “ mengatakan ada tiga hal yang tak pernah kita dapatkan kembali yaitu : 1. Kata yang telah diucapkan 2. Waktu yang telah lewat 3. Momentum yang diabaikan. Jadi dari situ kita bisa mengambil suatu hikmah bahwa apa yang kita lakukan dan waktu yang telah berlalu tiada bisa kita ulangi lagi, oleh karena itu di setiap momen dalam kehidupan yang fana ini kita sungguh-sungguh memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, karena pada akhirnya di pengadilan akhirat nanti semua yang kita perbuat akan dimintai keterangan dan tanggung jawabnya.
Waktu juga dibagi menjadi tiga bagian, pertama waktu  yang  lalu dimana waktu tersebut bukanlah menjadi milik kita lagi dan  kita tiada bisa merubah segala kejadian, peristiwa dan momen yang ada pada waktu tersebut, semuanya telah menjadi sejarah bagi hidup kita masing-masing. Kedua yaitu waktu yang akan datang, dimana kita tidak bisa memprediksi segala peristiwa yang terkait dengan waktu tersebut karena semuanya menjadi rahasia Tuhan, manusia hanya bisa mengharapkan masa depan yang terbaik baginya, yang ketiga adalah waktu saat ini, yaitu waktu dimana kita berada dan bisa melakukan berbagai hal dalam hidup kita.seorang manusia haruslah bijaksana dalam menyikapi tiga dimensi waktu tersebut, denga cara melihat kembali masa lalunya dan berbagai kesalahan dan perbuatan dosa yang di lakukan pada waktu tersebut dijadikan sebuah pelajaran berharga untuk intropeksi memperbaiki diri kita, sementara itu waktu yang ada sekarang kita benar-benar optimalkan sebaik mungkin untuk menimba ilmu dan  mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, di sisi lain kita menjadikan masa depan atau waktu yang akan datang sebagai sebuah harapan bagi kita untuk merealisasikan mimpi kita.
Kesimpulannya adalah sebagai manusia dengan anugerah waktu yang telah Tuhan berikan kepada kita, maka hendaknya kita memanfaatkannya dengan bijak untuk melakukan kebajikan  sebagai bekal sekaligus  persiapan menuju alam yang abadi yaitu akhirat.

Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi Komisariat Ekonomi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...