“Tujuan paling prinsip dari pendidikan adalah
menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, tidak hanya mengulangi
apa yang dilakukan generasi sebelumnya”, ujar Jean Piaget, Psikolog Swiss. Hal
tersebut menandakan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk menjiplak atau
meniru kebijaksanaan dan penemuan generasi sebelumnya tentang banyak hal, lebih
dari itu sebagai evaluator dan korektor terhadap kesalahan dan kekeliruan yang
ada di dalamnya. Berbicara mengenai pendidikan maka pasti berhubungan dengan
banyak hal, entah itu dari segi sistem, institusi, pemangku kebijakan dan lain
sebagainya. Oleh karena itu saya pusatkan pembahasan kali ini terhadap pelaku
atau aktor yang ada di dalamnya terutama dosen yang sedang mengajar di kampus.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk memprovokasi atau menjelek-jelekkan
salah satu pihak, namun sebagai bahan koreksi dan evaluasi bagi kita semua
terutama pihak yang terkait. Sudah hampir 6 semester telah saya jalani
perkuliahan, dan selama itu pula saya menjumpai berbagai macam karakteritik
dosen, dan saya yakin ini tidak hanya terjadi di kampus saya, bahkan di semua
perguruan tinggi negri/ swasta di tanah air pasti ada salah satu dosen dengan
jenis dan karakteristik yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Dosen tersebut
adalah dosen bertipe monolog, artinya dalam setiap kegiatan belajar mengajar di
dalam kelas, dosen tersebut hanya
menjelaskan dan memberi materi sesuai silabus, setelah itu kelas
diselesaikan. Ada kondisi unik dalam perkuliahan dimana dosen bertipe monolog
ini mengajar, yaitu kondisi dimana semua mahasiswa yang ada di dalam kelas
tersebut diibaratkan seperti kumpulan bebek-bebek penurut yang hanya diberikan
asupan pengetahuan. Padahal mahasiswa adalah sekumpulan kawula muda yang mana
hasrat intelektualnya sedang membara, oleh karena itu sangat disayangkan jika
tidak ada interaksi dua arah antara dosen dan mahasiswa. Jika dosen hanya
selalu memberi tanpa proses dialog, maka dosen tersebut secara tidak langsung telah
membekukan proses pengembangan intelektual mahasiswa. Mungkin kawan-kawan akan
berfikir, kenapa tidak mahasiswanya saja yang berinisiatif melontarkan
pertanyaan dan membuat suasana kelas lebih mencair lagi ?. Saya rasa itu
jawaban ideal, namun realitas empiriknya membuktikan bahwa sebagian mahasiswa
enggan melontarkan pertanyaan jika suasana
kelas dari awal sudah terasa beku. Jadi dosen sebagai orang yang
mempunyai kewenangan mengatur situasi dan kondisi kelas, sudah sepatutnya
merancang atau mendesain agar suasana perkuliahan benar-benar menjadi ajang
pergulatan intelektual, sehingga mahasiswa merasa bergairah untuk mengikuti
perkuliahan sampai selesai.
Oleh karena itu untuk
menghindarkan sikap pasif serta apatisme mahasiswa di dalam kelas, da beberapa
metode belajar menagajar yang ditawarkan
oleh Tan Malaka, salah satu diantaranya yaitu metode dialogis.
Metode dialogis merupakan
penyajian metode pembelajaran melalui penuturan lisan langsung kepada peserta
didik yang bersifat komunikatif. Berbeda dengan metode ceramah yang hanya
berpusat kepada guru/dosen. Umumnya metode ceramah tersirat stratifikasi
kekuasaan dalam pendidikan, antara dosen sebagai seorang yang memiliki
kekuasaan lebih dalam sistem kampus daripada peserta didik (mahasiswa),
sehingga dosen terkesan lebih pandai dari peserta didik karena status dosen
lebih tinggi daripada mahasiswa. Ada keterkaitan antara metode mengajar dosen
yang bersifat monolog dengan pengekangan daya fikir mahasiswa, bahakan mereka
akan menemui satu titik kejenuhan dalam suasana tersebut. Maka dari itu Freire
mengungkapkan bahwa di dalam praktek pendidikan seharusnya relasi bersifat
sejajar sehingga interaksi lepas pun tercipta anatara guru (dosen) dan peserta
didik, sehingga interaksi tidak bersifat kaku, dan tidak ada ketakutan dalam
diri peserta didik saat belajar.
Metode lainya yang
digagas oleh Tan Malaka yaitu metode diskusi kritis, jadi dalam kegiatan
perkuliahan mahasiswa berikan suatu persoalan dan dosen memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk mendiskusikan serta menyelesaikan masalah dan persolan
tersebut. Pentingnya diskusi di dalam kelas diperkuat dengan pendapat Daniel
Muijis dan David Reynolds, yaitu, “
Diskusi kelas dalam kelas dapat membantu memenuhi tiga tujuan utama
pembelajaran: mempromosikan keterlibatan mahasiswa dan keterlibatan dalam
pelajaran dengan memungkinkan mahasiswa untuk menyuarakan ide-ide mereka
sendiri, membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih baik dengan melalui
verbalisasi pemikiran mereka, dan akhirnya membantu mahasiswa memperoleh
keterampilan komunikasi.”
Akhirnya solusi yang bisa
saya sampaikan adalah kampus sebagai institusi pencetak intelektual, sudah
selayaknya tidak hanya mengevaluasi dosen pada akhir semseter, namun setiap ada
kejanggalan dalam cara mengajar seperti yang dilakukan dosen monolog harus
dievaluasi segera mungkin. Namun, bagaimanapun juga sebagai seorang murid saya
tetap menghargai setulus hati dosen-dosen yang ada di kampus, karena saya yakin
faktor keberhasilan mahasiswa dalam proses studi tidak hanya ditentukan oleh
kecerdasan intelektualnya saja, lebih dari itu ada variabel lain yang menentukan,
yaitu sikap atau attitude mahasiswa
terhadap dosennya. Sekian yang bisa saya sampaikan, semoga bermafaat.
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi
Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM
Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi
Komisariat Ekonomi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar