Selasa, 09 September 2014

Catatan Untuk Dosen Monolog ( Gagasan Reflektif Untuk Dosen di Kampus )




  “Tujuan paling prinsip dari pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, tidak hanya mengulangi apa yang dilakukan generasi sebelumnya”, ujar Jean Piaget, Psikolog Swiss. Hal tersebut menandakan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk menjiplak atau meniru kebijaksanaan dan penemuan generasi sebelumnya tentang banyak hal, lebih dari itu sebagai evaluator dan korektor terhadap kesalahan dan kekeliruan yang ada di dalamnya. Berbicara mengenai pendidikan maka pasti berhubungan dengan banyak hal, entah itu dari segi sistem, institusi, pemangku kebijakan dan lain sebagainya. Oleh karena itu saya pusatkan pembahasan kali ini terhadap pelaku atau aktor yang ada di dalamnya terutama dosen yang sedang mengajar di kampus.
MTulisan ini bukan bermaksud untuk memprovokasi atau menjelek-jelekkan salah satu pihak, namun sebagai bahan koreksi dan evaluasi bagi kita semua terutama pihak yang terkait. Sudah hampir 6 semester telah saya jalani perkuliahan, dan selama itu pula saya menjumpai berbagai macam karakteritik dosen, dan saya yakin ini tidak hanya terjadi di kampus saya, bahkan di semua perguruan tinggi negri/ swasta di tanah air pasti ada salah satu dosen dengan jenis dan karakteristik yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Dosen tersebut adalah dosen bertipe monolog, artinya dalam setiap kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, dosen tersebut hanya  menjelaskan dan memberi materi sesuai silabus, setelah itu kelas diselesaikan. Ada kondisi unik dalam perkuliahan dimana dosen bertipe monolog ini mengajar, yaitu kondisi dimana semua mahasiswa yang ada di dalam kelas tersebut diibaratkan seperti kumpulan bebek-bebek penurut yang hanya diberikan asupan pengetahuan. Padahal mahasiswa adalah sekumpulan kawula muda yang mana hasrat intelektualnya sedang membara, oleh karena itu sangat disayangkan jika tidak ada interaksi dua arah antara dosen dan mahasiswa. Jika dosen hanya selalu memberi tanpa proses dialog, maka  dosen tersebut secara tidak langsung telah membekukan proses pengembangan intelektual mahasiswa. Mungkin kawan-kawan akan berfikir, kenapa tidak mahasiswanya saja yang berinisiatif melontarkan pertanyaan dan membuat suasana kelas lebih mencair lagi ?. Saya rasa itu jawaban ideal, namun realitas empiriknya membuktikan bahwa sebagian mahasiswa enggan melontarkan pertanyaan jika suasana  kelas dari awal sudah terasa beku. Jadi dosen sebagai orang yang mempunyai kewenangan mengatur situasi dan kondisi kelas, sudah sepatutnya merancang atau mendesain agar suasana perkuliahan benar-benar menjadi ajang pergulatan intelektual, sehingga mahasiswa merasa bergairah untuk mengikuti perkuliahan sampai selesai.
Oleh karena itu untuk menghindarkan sikap pasif serta apatisme mahasiswa di dalam kelas, da beberapa metode  belajar menagajar yang ditawarkan oleh Tan Malaka, salah satu diantaranya yaitu metode dialogis.
Metode dialogis merupakan penyajian metode pembelajaran melalui penuturan lisan langsung kepada peserta didik yang bersifat komunikatif. Berbeda dengan metode ceramah yang hanya berpusat kepada guru/dosen. Umumnya metode ceramah tersirat stratifikasi kekuasaan dalam pendidikan, antara dosen sebagai seorang yang memiliki kekuasaan lebih dalam sistem kampus daripada peserta didik (mahasiswa), sehingga dosen terkesan lebih pandai dari peserta didik karena status dosen lebih tinggi daripada mahasiswa. Ada keterkaitan antara metode mengajar dosen yang bersifat monolog dengan pengekangan daya fikir mahasiswa, bahakan mereka akan menemui satu titik kejenuhan dalam suasana tersebut. Maka dari itu Freire mengungkapkan bahwa di dalam praktek pendidikan seharusnya relasi bersifat sejajar sehingga interaksi lepas pun tercipta anatara guru (dosen) dan peserta didik, sehingga interaksi tidak bersifat kaku, dan tidak ada ketakutan dalam diri peserta didik saat belajar.
Metode lainya yang digagas oleh Tan Malaka yaitu metode diskusi kritis, jadi dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa berikan suatu persoalan dan dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendiskusikan serta menyelesaikan masalah dan persolan tersebut. Pentingnya diskusi di dalam kelas diperkuat dengan pendapat Daniel Muijis dan David Reynolds, yaitu,  “ Diskusi kelas dalam kelas dapat membantu memenuhi tiga tujuan utama pembelajaran: mempromosikan keterlibatan mahasiswa dan keterlibatan dalam pelajaran dengan memungkinkan mahasiswa untuk menyuarakan ide-ide mereka sendiri, membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih baik dengan melalui verbalisasi pemikiran mereka, dan akhirnya membantu mahasiswa memperoleh keterampilan komunikasi.”
Akhirnya solusi yang bisa saya sampaikan adalah kampus sebagai institusi pencetak intelektual, sudah selayaknya tidak hanya mengevaluasi dosen pada akhir semseter, namun setiap ada kejanggalan dalam cara mengajar seperti yang dilakukan dosen monolog harus dievaluasi segera mungkin. Namun, bagaimanapun juga sebagai seorang murid saya tetap menghargai setulus hati dosen-dosen yang ada di kampus, karena saya yakin faktor keberhasilan mahasiswa dalam proses studi tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya saja, lebih dari itu ada variabel lain yang menentukan, yaitu sikap atau attitude mahasiswa terhadap dosennya. Sekian yang bisa saya sampaikan, semoga bermafaat.
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi Komisariat Ekonomi)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...