Selasa, 09 September 2014

Mahasiswa, Politik dan Peradaban


Dalam salah satu pidato Bung Karno di Solo  pada 2 Oktober 1958 dikatakan bahwasanya setiap zaman pasti berganti dan suatu keadaan pasti selalu berubah, tidak ada yang statis di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Bung Karno menjelaskan bahwa di dunia ini telah terjadi tahapan revolusi yang sungguh mengagumkan, tahapan-tahapan tersebut yaitu commercial revolution, industrial revolution, dan atomic revolution. Kita bisa mengetahui bahwa apa yang terjadi hari merupakan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang terjadi di masa lampau, hal itu terjadi karena fitrah manusia sebagai  homo sapiens ( makhluk berfikir) jadi terciptalah berbagai macam penemuan dan pembaharuan di berbagai bidang yang membuat kehidupannya lebih baik. Perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya manusia, karena  selain sebagai subyek, manusia adalah syarat mutlak bagi perubahan itu sendiri. Di dunia ini banyak sekali jenis manusia dengan berbagai macam karakteristik dan status sosial yang berbeda-beda. Salah satu kelompok manusia yang mempunyai ciri khasnya sendiri yaitu mahasiswa, mereka merupakan sekelompok manusia yang terdaftar di perguruan tinggi dengan intelektualitas di atas yang lainnnya dan dengan tanggung jawab yang besar dalam hidupnya. Pembahasan kali ini yaitu keterkaitan antara mahasiswa dengan perubahan-perubahan penting dalam suatu kehidupan, khususnya di bidang politik dan dampaknya terhadap peradaban bagi suatu bangsa. Jadi bisa dikatakan ada kaitan yang erat antara mahasiswa, politik dan Peradaban.
Mahasiswa  sebagai man of future yaitu manusia yang selalu berfikiran jauh ke depan serta memiliki pandangan yang luas serta visi yang jelas yang ingin diraihnya. Mahasiswa merupakan makhluk yang kompleks dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa ini sekaligus sebagai penyambung lidah rakyat Indonsia terhadap para pemimpinnya. Sehingga dengan begitu mahasiswa mempunyai keterkaitan yang erat di bidang politik, yang dimana politik juga mempunyai definisi yang amat luas. Politik tidak hanya berbicara terntang decision making (pengambilan keputusan), public policies (kebijakan umum) yang menyangkut pembagian sumber daya, ataupun tentang kekuasaan dan kewenangan. Lebih dari itu politik  berbicara tentang banyak hal yang manyangkut segala sendi kehidupan manusia. Perjuangan serta pergerakan mahasiswa dalam menerapkan kemurnian ideologinya  membela rakyat juga dinamakan aktivitas politik, jadi dengan begitu pengertian dari politik amatlah luas.  Di sisi lain peranan politik mahasiswa mempunyai kaitan dengan peradaban suatu bangsa.
Peradaban sendiri adalah kumpulan hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (mislanya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek). Sedangkan perkembangan politik bisa menghasilkan suatu budaya politik pada suatu kondisi dan waktu tertentu dan budaya politik tersebut akan menjadi cikal bakal peradaban suatu bangsa khususnya di bidang politik. Sudah selayaknya kita mengetahui peradaban-peradaban besar di dunia seperti Peradaban di Lembah Sungai Indus (India) , Peradaban di  Lembah Sungai Kuning (Cina), Peradaban di Lembah Sungai Eufrat dan Tigris (Mesopotamia), dan Peradaban di Lembah Sungai Nil (Mesir). Semua peradaban tersebut berawal dari tingkah manusia yang senantiasa berfikir dan   senantiasa memiliki rasa ingin tahu. Mahasiswa sebagai kaum intelektual sepatutnya menajadi  agent of civilization, artinya mereka berperan sebagai aktor dalam membangun suatu peradaban yang gemilang.
Untuk bisa mencapai suatu peradaban emas, langkah yang bisa jadi acuan oleh mahasiswa yaitu dengan berpatokan kepada konsep K3PK yaitu Kesadaran, Kemauan, Kepedulian, Pengabdian dan kekonsistenan. Konsep tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa harus memiliki kesadaran terlebih dahulu akan jati dirinya serta hakikat dari hidupnya sendiri sebagai makhluk Tuhan dan sebagai warga negara Indonesia, sehingga dengan begitu mereka mempunyai visi yang terarah dalam hidupnya, setelah itu mahasiswa harus mempunyai kemauan, artinya mereka memiliki keinginan yang kuat disertai tindakan nyata untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas dirinya, selanjutnya mahasiswa harus mempunyai kepedulian, artinya mereka mempunyai rasa peka yang diiringi sikap peduli terhadap sesamanya serta keadaan lingkungannya sehingga dengan begitu timbullah rasa untuk selalu membangun bangsanya, seterusnya yaitu pengabdian, artinya setelah mahasiswa mempunyai kualitas serta ilmu yang mumpuni, maka disarankan untuk mendedikasikan sebagian hidupnya terhadap kepentingan orang banyak  karena sebaik baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lainnya, yang terakhir adalah kekonsistenan, artinya mahasiswa harus disiplin dan konsisten menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya. Selama mahasiswa berpatokan pada prinsip kebaikan maka akan timbul suatu budaya politik yang baik karena pada dasarnya politik tidak pernah lepas dari nilai-nilai kebaikan yang berlaku dalam kehidupan suatu bangsa.
Kesimpulannya adalah mahasiswa harus menjadi pioner dari perubahan suatu bangsa dengan cara proaktif dalam kegiatan politik, alasannya adalah agar bangsa ini bisa terselamatkan dari para pemimpin yang tidak amanah, sehingga dengan begitu diharapakan secara perlahan tapi pasti suatu saat nanti peradaban emas itu benar-benar terjadi.
Tulisan ini pernah dimuat di koran harian Radar Surabaya
By : Muhammad Aufal Fresky ( Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi Pembangunan/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Anggota LPM Sektor/Pengurus LPM Mercusuar UNAIR)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...