Selasa, 09 September 2014

Haqqul Yakin Tuhan Itu Ada



Setiap sejarah peradaban umat manusia, selalu diliputi rasa penasaran akan segala sesuatu di dunia ini, tentang adanya alam semesta, tentang manusia, termasuk juga  tentang Tuhan . Hal tersebut telah muncul ratusan tahun silam, sejak zaman peradaban Yunani Kuno, peradaban Mesir, hingga peradaban modern saat ini. Hal tersebut menyebabkan munculnya sebuah pertentangan pemikiran antara filsafat dan pengetahuan empiris manusia. Karen Amstrong dalam sebuah bukunya “Sejarah Tuhan”, telah mengupas sejarah umat terdahulu dalam mencari Tuhannya. Begitu juga disebutkan di dalam kitab “ Bhagawad Gita” yang ditulis oleh Sri Krisnhna Dvipayana bahwasanya manusia mengalami pengalaman dalam proses pencarian Tuhan, ada kalanya manusia beranggapan gledek adalah Tuhan mereka, selanjutnya menjadikan sungai sebagai Tuhannya karena telah memberikan kehidupan, setelah itu manusia membuat Patung sebagai sesembahan mereka. Sampai pada akhirnya di era modern kali ini  sebagian manusia menjadikan akal sebagai Tuhan manusia atau biasa disebut golongan Ateis.
Di bulan suci Ramdhan ini alangkah bijaknya kita tidak hanya terjebak di dalam urusan politik tetapi melupakan urusan yang lebih penting, yaitu pemantapan konsepsi tentang Ketuhanan yang kita ketahui. Pemantapan tersebut diperlukan karena bertujuan untuk meningkatkan Iman dan takwa kita. 
Sebagai homo sapiens (makhluk berfikir), sebaiknya kita selalau bertafakkur akan segala kejadian dan fenomena alam yang terjadi. Bukankah alam semesta ini tiada terjadi begitu saja. seperti adanya berjuta-juta fauna dan flora yang ada di bumi ini dengan berbagai bentuk dan ukuran yang berbeda, begitu juga dengan  tata surya  dengan delapan planet teratur mengelilingi matahari yang berada  di dalam galaksi bimasakti, atau juga berjuta juta bintang di angkasa sana yang ukurannya sangat besar di dalam berbagai macam galaksi yang berbeda seperti galaksi Magellan, Galaksi Ursa Mayor, Galaksi Andromeda atau kita bisa melihat kebesaran Tuhan ke dalam diri kita sendiri berupa jantung yang kita miliki, paru-paru yang kita punyai dan semua indera serta anggota tubuh yang melekat pada diri kita, bukankah itu salah satu bukti kebesaran Tuhan. Dari serentetan pemaparan tersebut bisa dikatakan bahwa itu merupakan salah satu bukti keberadaan Sang Maha Pencipta alam semesta  beserta isinya ini.
  Banyak ilmuwan barat yang menyangkal akan keberadaan Tuhan dengan berbagai macam argumetasi yang mereka paparkan, salah satu contohnya yaitu Sir Isac Newton yang memperkenalkan kepada seluruh dunia bahwa alam ini terikat oleh hukum-hukum alam yang tetap, benda-benda langit di cakrawala beredar sesuai dengan hukum-hukum alam yang mengikatnya, yakni beredar pada garis orbitnya dan tidak pernah keluar dari garis orbitnya karena ketika keluar maka alam semesta ini akan hancur, oleh karena itu semua yang terjadi di alam semesta ini adalah hasil mekanisasi alam dan campur tangan manusia, tidak ada bukti akan adanya kekuasaan Tuhan. Pendapat yang sama mengenai penolakan keberadaan Tuhan juga diungkapkan oleh Dalton dan Albert Eistein, Dalton mengemukakan bahwa atom tidak dapat dimusnahkan ataupun diciptakan dan Einstein juga menyatakan bahwa massa sebelum reakasi sama dengan massa yang telah direaksikan atau sering dinamakan hukum kekekalan massa, pernyataan kedua ilmuwan tersebut mengatakan bahwa alam semesta sudah ada semenjak dari zaman azali dan tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan.
Sebagai seorang muslim kita hendaknya besikap kritis atas pernyataan ilmuwan di atas, dan mengembalikan semua kepada dasar-dasar yang telah kita yakini yaitu Al-Quran dan Hadis. Salah satunya yang bisa memperkuat keyakinan kita akan keberadaan Tuhan yaitu di dalam Al-Quran Surat Yunus ayat 5 yang artinya, ““Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya (memantulkan cahaya) dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu,agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan demekian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda( kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” 
Argumen lainnya yang menguatkan keberadaan Tuhan yaitu pernyataan Immanuel Kant yang menyatakan bahwa adanya Tuhan merupakan kebenaran Postulat, yaitu kebenaran tertinggi dalam tingkatan kebenaran, kebenaran yang tak terbantahkan, kebenaran yang berada  di luar jangkauan indera, akal dan ilmu pengetahuan.
Akhirnya sebagai seorang muslim harus haqqul Yakin akan keberadaan Tuhan, karena haqqul yakin menduduki tingkatan pertama dalam ttingkatan keyakinan, setelah itu ilmul yakin dan ainul yakin.
Ainul yakin yakin merupkan tingkatan keyakinan yang dimiliki seorang manusia karena manusia mempunyai indera, seperti ketika dia yakin ada api ketika dia benar-benar melihat api di depan mata kepalanya, sementara ilmul yakin bisa diumpakan ketika seorang manusia melihat asap di balik sebuah gedung, maka dia berfikir bahwa pasti ada api di balik gedung itu juga karena  rasio dan akalnya  mengatakan bahwa asap tidak akan muncul kalau tidak ada api, sementara itu haqqul yakin bisa diumpamkan ketika telah memasukkan tangannnya ke dalam api tersebut lalu merasakan panasnya api tersebut dan akhirnya dia meyakini dengan penuh kesadaran bahwa itu adalah api karena dia sendiri yang merasakan panasnya.
Implikasinya ketika kita sudah Haqqul yakin tuhan itu ada, maka diharapkan seluruh gerak gerik kita baik itu ucapan dan tindakan bisa terjaga dan senantiasa berbuat kebajikan selama hidup, terutama di bulan Ramdahan kali ini .

Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi Komisariat Ekonomi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...