Setiap
sejarah peradaban umat manusia, selalu diliputi rasa penasaran akan segala
sesuatu di dunia ini, tentang adanya alam semesta, tentang manusia, termasuk
juga tentang Tuhan . Hal tersebut telah
muncul ratusan tahun silam, sejak zaman peradaban Yunani Kuno, peradaban Mesir,
hingga peradaban modern saat ini. Hal tersebut menyebabkan munculnya sebuah
pertentangan pemikiran antara filsafat dan pengetahuan empiris manusia. Karen
Amstrong dalam sebuah bukunya “Sejarah
Tuhan”, telah mengupas sejarah umat terdahulu dalam mencari Tuhannya.
Begitu juga disebutkan di dalam kitab “ Bhagawad
Gita” yang ditulis oleh Sri Krisnhna Dvipayana bahwasanya manusia mengalami
pengalaman dalam proses pencarian Tuhan, ada kalanya manusia beranggapan gledek
adalah Tuhan mereka, selanjutnya menjadikan sungai sebagai Tuhannya karena
telah memberikan kehidupan, setelah itu manusia membuat Patung sebagai
sesembahan mereka. Sampai pada akhirnya di era modern kali ini sebagian manusia menjadikan akal sebagai Tuhan
manusia atau biasa disebut golongan Ateis.
Di
bulan suci Ramdhan ini alangkah bijaknya kita tidak hanya terjebak di dalam
urusan politik tetapi melupakan urusan yang lebih penting, yaitu pemantapan
konsepsi tentang Ketuhanan yang kita ketahui. Pemantapan tersebut diperlukan karena
bertujuan untuk meningkatkan Iman dan takwa kita.
Sebagai
homo sapiens (makhluk berfikir), sebaiknya kita selalau bertafakkur
akan segala kejadian dan fenomena alam yang terjadi. Bukankah alam semesta ini
tiada terjadi begitu saja. seperti adanya berjuta-juta fauna dan flora yang ada
di bumi ini dengan berbagai bentuk dan ukuran yang berbeda, begitu juga
dengan tata surya dengan delapan planet teratur mengelilingi
matahari yang berada di dalam galaksi
bimasakti, atau juga berjuta juta bintang di angkasa sana yang ukurannya sangat
besar di dalam berbagai macam galaksi yang berbeda seperti galaksi Magellan,
Galaksi Ursa Mayor, Galaksi Andromeda atau kita bisa melihat kebesaran Tuhan ke
dalam diri kita sendiri berupa jantung yang kita miliki, paru-paru yang kita
punyai dan semua indera serta anggota tubuh yang melekat pada diri kita,
bukankah itu salah satu bukti kebesaran Tuhan. Dari serentetan pemaparan
tersebut bisa dikatakan bahwa itu merupakan salah satu bukti keberadaan Sang
Maha Pencipta alam semesta beserta
isinya ini.
Banyak ilmuwan barat yang menyangkal akan
keberadaan Tuhan dengan berbagai macam argumetasi yang mereka paparkan, salah
satu contohnya yaitu Sir Isac Newton yang memperkenalkan kepada seluruh dunia
bahwa alam ini terikat oleh hukum-hukum alam yang tetap, benda-benda langit di
cakrawala beredar sesuai dengan hukum-hukum alam yang mengikatnya, yakni
beredar pada garis orbitnya dan tidak pernah keluar dari garis orbitnya karena
ketika keluar maka alam semesta ini akan hancur, oleh karena itu semua yang
terjadi di alam semesta ini adalah hasil mekanisasi alam dan campur tangan
manusia, tidak ada bukti akan adanya kekuasaan Tuhan. Pendapat yang sama
mengenai penolakan keberadaan Tuhan juga diungkapkan oleh Dalton dan Albert
Eistein, Dalton mengemukakan bahwa atom tidak dapat dimusnahkan ataupun
diciptakan dan Einstein juga menyatakan bahwa massa sebelum reakasi sama dengan
massa yang telah direaksikan atau sering dinamakan hukum kekekalan massa,
pernyataan kedua ilmuwan tersebut mengatakan bahwa alam semesta sudah ada
semenjak dari zaman azali dan tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan.
Sebagai
seorang muslim kita hendaknya besikap kritis atas pernyataan ilmuwan di atas,
dan mengembalikan semua kepada dasar-dasar yang telah kita yakini yaitu
Al-Quran dan Hadis. Salah satunya yang bisa memperkuat keyakinan kita akan
keberadaan Tuhan yaitu di dalam Al-Quran Surat Yunus ayat 5 yang artinya, ““Dialah yang menjadikan matahari bersinar
dan bulan bercahaya (memantulkan cahaya) dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi
perjalanan bulan itu,agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Allah tidak menciptakan demekian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan
tanda-tanda( kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
Argumen
lainnya yang menguatkan keberadaan Tuhan yaitu pernyataan Immanuel Kant yang
menyatakan bahwa adanya Tuhan merupakan kebenaran Postulat, yaitu kebenaran
tertinggi dalam tingkatan kebenaran, kebenaran yang tak terbantahkan, kebenaran
yang berada di luar jangkauan indera,
akal dan ilmu pengetahuan.
Akhirnya
sebagai seorang muslim harus haqqul Yakin
akan keberadaan Tuhan, karena haqqul
yakin menduduki tingkatan pertama dalam ttingkatan keyakinan, setelah itu ilmul yakin dan ainul yakin.
Ainul yakin
yakin merupkan tingkatan keyakinan yang dimiliki seorang manusia karena manusia
mempunyai indera, seperti ketika dia yakin ada api ketika dia benar-benar
melihat api di depan mata kepalanya, sementara ilmul yakin bisa diumpakan ketika seorang manusia melihat asap di
balik sebuah gedung, maka dia berfikir bahwa pasti ada api di balik gedung itu
juga karena rasio dan akalnya mengatakan bahwa asap tidak akan muncul kalau
tidak ada api, sementara itu haqqul yakin
bisa diumpamkan ketika telah memasukkan tangannnya ke dalam api tersebut lalu
merasakan panasnya api tersebut dan akhirnya dia meyakini dengan penuh
kesadaran bahwa itu adalah api karena dia sendiri yang merasakan panasnya.
Implikasinya
ketika kita sudah Haqqul yakin tuhan
itu ada, maka diharapkan seluruh gerak gerik kita baik itu ucapan dan tindakan
bisa terjaga dan senantiasa berbuat kebajikan selama hidup, terutama di bulan
Ramdahan kali ini .
Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Program Studi Ekonomi
Pembangunan UNAIR/ Kabid P3A HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Pengurus LPM
Mercusuar/ Anggota LPPM Sektor/ Pemimpin Redaksi Buletin Insan cita Hmi
Komisariat Ekonomi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar