Seiring dengan semakin
majunya zaman dan seiring silih bergantinya waktu, bangsa Indonesia dihadapakan
dengan bebagai macam problem sosial baik yang datangnya dari pengaruh peradaban
barat maupun yang datangny dari dari dalam bangsa itu sendiri. Problem sosial
yang selalu menghantui bangsa ini memang seharusnya dihadapi dengan kepala
dingin oleh berbagai elemen masayrakat melalui musyawarah mufakat dan
penyelesaian secara sistemik. Contoh problem sosial yaitu maraknya penggunaan
narkoba, free seks di kalangan pemuda, tawuran dan lain sebagainya, namun yang
kita tekankan di sini adalah masalah bobroknya akhlak serta moral para penerus
bangsa terutama mahasiswa lebih tepatnya lagi pembahasan mengenai keterkaitan
antara pergaulan bebas mahasiswi dengan life stylw dan moralitas.
Bukan rahasia umum lagi
jika setiap harinya hampr kita dengar mengenai berita-berita tentang hamilnya
mahasiswi, beredarnya video porno mahasiswi, pengguguran bayi dan lan
sebagainya. Mahasiswi adalah bagian dari masyarakat dengan intelektualitas yang
mumpuni dan dengan segudang amanah yang mereka emban untuk bangsa dan
negaranya. Sungguh sangat ironi sekali jika seorang mahasiswi yang seharusnya
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moralitas yang berlaku di masyarakat,
ternyata mereka mengahncurkan nilai-nilai moral yang selama ini mereka junjung
tinggi.
Sudah tidak asing lagi
ditelinga masyarakat Indonesia mengenai istilah “ayam kampus”, bahkan anak yang
di bawah umur pun tau istilah tersebut dan hal itu membuktikan betapa banyaknya
masalah sosial yang terjadi. Ayam kampus sendiri adalah sebuah istilah yang digunakan oleh
sekelompok orang terhadap mahasiswi yang mempunyai pekerjaan ganda, yaitu
pekerjaan akademisi ditambah pekerjaan untuk memuaskan hasrat seksual para
lelaki hidung belang. Para mahasiswi yang menajdi ayam kampus pastinya
mempunyai background sosial yang berbeda beda baik dari segi ekonomi dan gaya hidup masing-masing mahasiswi
tersebut. Seorang mahasiswi dengan tingkat kedewasaan dan intelektualitas yang berbeda-beda pastinya mempunyai
orientasi hidup serta gaya hidup (life style) yang berbeda pula. Banyak
alasan-alasan yang merea lontarkan untuk
memenarkan perilaku menyimpang mereka, alasan mayoritas mereka yaitu untuk
memenuhi tuntutan ekonomi mereka sekaligus untuk memenuhi hasrat seksual mereka
bagi yang telah kecanduan seks. Mereka melakukan dengan sukarela untuk memenuhi
tuntutan ekonomi, sosial dan gaya hidup
hedon materialistik mereka. Secara psikologis sebenarnya mereka merasa apa yang
mereka lakukan menyimpang namun akal dan hati mereka mungkin telah tertutup
karena ketidakmampuan para mahasiswi untuk menghadapi problem ekonomi yang
mereka alami. Mereka memilih gaya hidup yang serba mewah dengan berbagai macam
pakaian serta aksesoris kelas atas.
Cara mereka melakukan
transaksi sangat tertutup sekali serta jaringannya sangat sulit sekali untuk
diketahui, karena mereka mempunyai alasan takutnya jaringan mereka di kampus
terbongkar karena ulah orang yang menyamar sebagai pelanggan. Tuntutan zaman
serta gaya hidup yang mewah bagaikan cita-cita yang fatamorgana agi manusia
karena semuanya akan ditinggalkan dan para mahasiswi ini belum menyadarinya.
Mereka melanggar nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari agama dan dan hati nurani
mereka. Mereka melanggar norma-norma masyarakat, memang mereka belum merasakan
konsekuensi di dunia, namun hari akhir pasti akan menemui mereka terpelas dari
berbagai macam alasan yang mereka lontarkan.
Untuk menyelesaikan
kasus-kasus di kalangan akademisi tersebut diperlukan penyelesaian secara
komperhensif dan struktural, dan diperlukan kejasama antara semua elemen dalam
masyarakat seperti sering melakukan sosialisasi mengenai bahayanya free seks,
mengenai pentingnya nilainilai agama bagi kehidupan mereka dan lain-lain.
Pemerintah di sini juga harus berperan aktif seperti memberikan kesempatan
seluas-luasnya bagi mahasiswi yang tidak mampu secara finansial untuk membuka
usaha sendiri seperti pemerintah mengadakan pelatihan kewirausahaan, pemberian
bantuan dana untuk usaha dan sebagainya sehinggan mereka tidak terjerumus ke
lembah prostitusi.
Kesimpulannya yaitu gaya
hidup hedonis seorang mahasiswi disertai faktor finansial yang rendah telah
menyebabkan mereka melakukan perbuatan yang menyimpang dari moralitas yang
berlaku, dan untuk menyelesaikan pasti butuh waktu dan pengorbanan dari
pelau-pelaku tersebut. Solusinya yaitu penguatan sisi rohaniah para mahasiswi
tersebut, pemerintah serta pihak kampus membrikan sosialisasi menegani jati
diri yang baik dan cita-cita yang mulia
dan lan sebagainya.
5 Desember 2012
Penulis : Muhammad Aufal
F ( Mahasiswa Airlangga)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar