Selasa, 09 September 2014

Ayam Kampus, Life Style dan Moralitas




Seiring dengan semakin majunya zaman dan seiring silih bergantinya waktu, bangsa Indonesia dihadapakan dengan bebagai macam problem sosial baik yang datangnya dari pengaruh peradaban barat maupun yang datangny dari dari dalam bangsa itu sendiri. Problem sosial yang selalu menghantui bangsa ini memang seharusnya dihadapi dengan kepala dingin oleh berbagai elemen masayrakat melalui musyawarah mufakat dan penyelesaian secara sistemik. Contoh problem sosial yaitu maraknya penggunaan narkoba, free seks di kalangan pemuda, tawuran dan lain sebagainya, namun yang kita tekankan di sini adalah masalah bobroknya akhlak serta moral para penerus bangsa terutama mahasiswa lebih tepatnya lagi pembahasan mengenai keterkaitan antara pergaulan bebas mahasiswi dengan life stylw dan moralitas.
Bukan rahasia umum lagi jika setiap harinya hampr kita dengar mengenai berita-berita tentang hamilnya mahasiswi, beredarnya video porno mahasiswi, pengguguran bayi dan lan sebagainya. Mahasiswi adalah bagian dari masyarakat dengan intelektualitas yang mumpuni dan dengan segudang amanah yang mereka emban untuk bangsa dan negaranya. Sungguh sangat ironi sekali jika seorang mahasiswi yang seharusnya berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moralitas yang berlaku di masyarakat, ternyata mereka mengahncurkan nilai-nilai moral yang selama ini mereka junjung tinggi.
Sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia mengenai istilah “ayam kampus”, bahkan anak yang di bawah umur pun tau istilah tersebut dan hal itu membuktikan betapa banyaknya masalah sosial yang terjadi. Ayam kampus sendiri  adalah sebuah istilah yang digunakan oleh sekelompok orang terhadap mahasiswi yang mempunyai pekerjaan ganda, yaitu pekerjaan akademisi ditambah pekerjaan untuk memuaskan hasrat seksual para lelaki hidung belang. Para mahasiswi yang menajdi ayam kampus pastinya mempunyai background sosial yang berbeda beda baik dari segi ekonomi  dan gaya hidup masing-masing mahasiswi tersebut. Seorang mahasiswi dengan tingkat kedewasaan dan intelektualitas  yang berbeda-beda pastinya mempunyai orientasi hidup serta gaya hidup (life style) yang berbeda pula. Banyak alasan-alasan yang merea lontarkan  untuk memenarkan perilaku menyimpang mereka, alasan mayoritas mereka yaitu untuk memenuhi tuntutan ekonomi mereka sekaligus untuk memenuhi hasrat seksual mereka bagi yang telah kecanduan seks. Mereka melakukan dengan sukarela untuk memenuhi tuntutan ekonomi, sosial dan  gaya hidup hedon materialistik mereka. Secara psikologis sebenarnya mereka merasa apa yang mereka lakukan menyimpang namun akal dan hati mereka mungkin telah tertutup karena ketidakmampuan para mahasiswi untuk menghadapi problem ekonomi yang mereka alami. Mereka memilih gaya hidup yang serba mewah dengan berbagai macam pakaian serta aksesoris kelas atas.
Cara mereka melakukan transaksi sangat tertutup sekali serta jaringannya sangat sulit sekali untuk diketahui, karena mereka mempunyai alasan takutnya jaringan mereka di kampus terbongkar karena ulah orang yang menyamar sebagai pelanggan. Tuntutan zaman serta gaya hidup yang mewah bagaikan cita-cita yang fatamorgana agi manusia karena semuanya akan ditinggalkan dan para mahasiswi ini belum menyadarinya. Mereka melanggar nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari agama dan dan hati nurani mereka. Mereka melanggar norma-norma masyarakat, memang mereka belum merasakan konsekuensi di dunia, namun hari akhir pasti akan menemui mereka terpelas dari berbagai macam alasan yang mereka lontarkan.
Untuk menyelesaikan kasus-kasus di kalangan akademisi tersebut diperlukan penyelesaian secara komperhensif dan struktural, dan diperlukan kejasama antara semua elemen dalam masyarakat seperti sering melakukan sosialisasi mengenai bahayanya free seks, mengenai pentingnya nilainilai agama bagi kehidupan mereka dan lain-lain. Pemerintah di sini juga harus berperan aktif seperti memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswi yang tidak mampu secara finansial untuk membuka usaha sendiri seperti pemerintah mengadakan pelatihan kewirausahaan, pemberian bantuan dana untuk usaha dan sebagainya sehinggan mereka tidak terjerumus ke lembah prostitusi.
Kesimpulannya yaitu gaya hidup hedonis seorang mahasiswi disertai faktor finansial yang rendah telah menyebabkan mereka melakukan perbuatan yang menyimpang dari moralitas yang berlaku, dan untuk menyelesaikan pasti butuh waktu dan pengorbanan dari pelau-pelaku tersebut. Solusinya yaitu penguatan sisi rohaniah para mahasiswi tersebut, pemerintah serta pihak kampus membrikan sosialisasi menegani jati diri yang baik dan cita-cita  yang mulia dan lan sebagainya.

5 Desember 2012 
Penulis : Muhammad Aufal F ( Mahasiswa Airlangga)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...