Selasa, 09 September 2014

Pemilu dan Masa Depan Pembangunan Indonesia





“Ubahlah dunia seperti yang ingin kamu lihat”, ujar Mahatma Gandhi salah satu tokoh India, pernyataan tersebut saya rasa tiada hanya berlaku bagi setiap individu maupun kelompok, namun bagi suatu bangsa yang berharap suatu perubahan di dalamnya. Perubahan yang dimaksudkan adalah ke arah yang lebih baik lagi. Banyak cara agar perubahan itu bisa terwujud, diantaranya melalui politik, dan Indonesia adalah salah satu negara yang akan mengalami transisi kepemimpinan melalui proses demokrasi lima tahunan lebih tepatnya lagi melalui pemilu.
Pemilu adalah suatu mekanisme dalam sistem demokrasi yang mana rakyat menggunakan kedaulatannya untuk memilih pemimpinnya kelak. Maksud diadakannya pemilu adalah agar pemimpin yang dipilih benar-benar merepresentasikan kepentingan masyarakat luas, meskipun pilihan dari masing-masing pemilih berbeda namun tujuan tetap harus satu yaitu kebaikan bangsa dan negara. Pemilu hanyalah suatu proses, yang paling penting adalah agenda atau program kerja para pemimpin pasca pemilu. Agenda terpenting yang biasanya sering dilontarkan para calon pemimpin bangsa adalah mengenai pembangunan di Indonesia. Berbicara mengenai pembangunan, maka dengan diadakannya pemilu, maka rakyat Indonesia mempunyai harapan besar kepada para pemimpin yang terpilih agar janji di bidang pembangunan benar-benar diwujudkan.
Pembangunan di Indonesia tidak hanya menyangkut bidang ekonomi yang ditandai dengan perubahan secara struktural dan kelembagaan di bidang tersebut, atau pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya produk domestik bruto suatu negara. Sungguh terlalu sempit mindset para pemimpin jika hanya berpatokan pada hal-hal yang bersifat material dalam menentukan arah bangsa ke depan. Pembangunan ideal menurut pandangan penulis yaitu pembangunan Komperhensif. Artinya dalam membangun bangsa pasca pemilu,  para pemimpin tidak hanya fokus terhadap suatu bidang, namun membuat segala bidang berjalan beriringan dengan skala prioritas berbeda-beda sesuai dengan konteks bangsa dan zaman. Arah pembangunan di sini hendaknya difokuskan kepada perbaikan secara sistematis terhadap spritualitas, mindset, dan karakter masyarakat. Hal tersebut bukan berarti mengesampingkan pengembangan intelekualitas masyarakat, karena pada dasarnya keceradasan intelektual sangat berpengaruh namun prioritas yang harus didahulukan adalah penataan emosianal masyarakat Indonesia, karena bangsa ini membutuhkan masayarakat yang beradab sekaligus cerdas.
Sisi lain dari pembangunan secara komperhensif adalah segmentasi yang dituju oleh pemerintah harus meliputi seluruh komponen bangsa. Artinya para pemimpin yang terpilih pasca pemilu harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh nasib rakyat yang mungkin selama ini tidak menerima manfaat rill dari proses pembangunan, seperti para tunawisma, tunanetra, tunarungu, kaum lansia dan seluruh masyarakat yang secara fisik tidak sesempurna masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun juga hak mereka dilindungi oleh konstitusi dan para pemimpin harus mulai melihat kembali segmentasi penerima kebijakan pembangunan, apakah semua kompenen bangsa menerima dampaknya atau hanya sebagian.
Bentuk perhatian pemerintah  untuk para penyandang cacat bisa berupa pemberian fasilitas pendidikan khusus bagi mereka dengan staf pengajar ahli, pengadaan program kewirausahaan berskala nasional khusus penyandang cacat, dan masih banyak hal yang bisa dilakukan pemeritah untuk mereka pasca pemilu ini.
   Arah pembangunan pasca pemilu untuk para penyandang cacat hendaknya menjadi program pemerintah yang jelas untuk ke depannya, karena mereka juga rakyat, mereka juga berpartisipasi di dalam pemilu, jadi sudah sepatutnya mereka semua mendapat perhatian penuh pemerintah kedepannya dengan begitu masa depan pembangunan akan lebih terarah lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...