Senin, 29 Juni 2015

Nikmatnya Berproses di Himpunan Mahasiswa Islam


Oleh : Valiant Mahdi Syihaby Nur Hasyim 
 
            Keputusan orang-orang untuk ikut Latihan Kader 1 HMI dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori, yaitu kagum akan sejarah dan perjuangan HMI, salah satu anggota keluarganya HMI, sungkan dengan teman yang merupakan kader HMI, dosen dikampusnya alumni HMI, dan menjadi korban kedok kader HMI. Sejak kecil aku telah mengenal beberapa aktivis HMI yang seringkali sowan ke rumah dan kenal akrab dengan mereka hingga saat ini. Maklum, bapakku pernah aktif di HMI sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya Komisariat Ushuluddin dan Ketua Bidang Internal HMI Cabang Surabaya, sedangkan ibuku yang usianya lebih muda lima tahun dari bapakku juga pernah aktif di HMI. Mereka mengajarkanku banyak hal tentang apa yang harus dilakukan seorang aktivis HMI.
            Aku melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan hal pertama yang kucari adalah HMI. Tak mudah menemukan HMI, apalagi sistem perkuliahan di IPB menuntut mahasiswa tahun pertama untuk menetap di asrama selama setahun penuh dan kakak-kakak senior yang mendampingi mahasiswa-mahasiwa baru IPB ini kebanyakan berafiliasi dengan organ mahasiswa yang didirikan pada tahun 1998 mengunci rapat informasi HMI. Selang beberapa bulan, aku berdiskusi dengan Reza tentang HMI dengan segala keterbatasan informasiku tentang ada atau tidaknya HMI di IPB. Aku mencoba meyakinkannya untuk bergabung dengan HMI dan tiba-tiba ada seseorang yang menyela pembicaraan kami untuk meminjam korek api. Ia juga mendengar obrolan kami tentang HMI. Lalu kami berkenalan dengannya, ia adalah bang Furqon yang saat itu diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bogor Komisariat Peternakan dan ia menjelaskan banyak hal tentang HMI. Reza yang awalnya tidak tertarik dengan HMI, akhirnya tertarik juga dan bang Furqon janji untuk segera mencari informasi Latihan Kader 1 terdekat.
            Setelah dinyatakan lulus LK1 dan resmi menjadi kader HMI, aku mulai disibukkan banyak agenda mulai dari membiasakan diri membaca buku pergerakan, kajian rutin, menulis, silaturrahim, dan aksi. Senior yang membimbingku enggan berdiskusi denganku jika tidak ada bacaan baru setiap bertemu dengannya. Walaupun hanya tiga bulan sejak dinaikkan status dari anggota muda menjadi anggota biasa, banyak hal yang telah kupelajari dari HMI Cabang Bogor. Kunci utama dalam perkaderan HMI adalah silaturrahim, tiap ada agenda LK1 komisariat-komisariat se-Cabang Bogor, selalu aku sempatkan datang dan berbicara banyak hal dengan pengurus maupun senior komisariatnya.
            Setahun di IPB dengan segala hingar bingarnya telah berakhir. Tiba waktuku untuk berpisah dan mengulang studi di Universitas Airlangga (UNAIR). Sama halnya dengan di IPB, di UNAIR ini hal yang kucari adalah HMI. Beruntung aku kenal baik dengan mas Afi yang menjabat sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya, lalu ia memberikanku kontak ketua umum komisariat ekonomi yang saat itu dipimpin oleh mas Didik. Berhubung surat mutasi tak kunjung turun dan Alek yang saat itu sebagai ketua OC LK1 memintaku untuk ikutan lagi LK1 sebagai syarat jadi kader HMI Komisariat Ekonomi walaupun aku pernah ikut LK1 di komisariat kehutanan cabang Bogor.
            Sangat membosankan dan tidak ada hal yang baru kecuali materi teknik persidangan yang baru aku dapatkan di LK1 komisariat Ekonomi Airlangga. Yang menjadi fokus utamaku di LK1 ini adalah betapa kakunya hubungan antara peserta LK1, panitia LK1, pengurus komisariat, dan alumni. Setelah LK1 ini, aku tidak begitu aktif, bagiku tidak ada nilai tambah yang kudapat di komisariat Ekonomi Airlangga dan forum diskusinya terlalu menjemukkan. Sampai akhirnya komisariat memintaku untuk ikut LK2 Cabang Surabaya bersama Himma, Faid, dan Alek menjadi perwakilan komisariat Ekonomi.
            Forum LK2 ini menyadarkanku bahwa di HMI harus haus ilmu dan selalu mencari hal-hal baru untuk diubah kearah yang lebih baik. Apalagi di forum LK2 ini aku intens berdiskusi dengan mas Adhi, yang biasa kupanggil Ketum karena demisioner ketua umum HMI komisariat FISIP Airlangga yang saat ini kuliah S2 di St.John Seminary, Amerika Serikat begitu ahlinya menjelaskan dengan detail filsafat, politik, dan sejarah. Sejak saat itu kuputuskan bahwa kebiasaan-kebiasaan lamaku di Cabang Bogor harus dihidupkan lagi terutama membaca buku dan berdiskusi. Lama sekali aku merindukan forum-forum intelektual seperti ini. Juga disini aku berteman akrab dengan Lukman, Tirta, Hanief, Muas, Fahri, Faqih, Adi, Hafid, Kaji, Mahfud, Fuad, Yayak, dan Ricky.
            Aku begitu bersemangat setelah mengikuti LK2 ini dan sering melakukan protes ke Ketua Umum Komisariat Ekonomi Airlangga karena begitu mundurnya perkembangan HMI sejak ia pimpin. Karena protes-protesku tak ditanggapi, aku melampiaskannya dengan melakukan proses perkaderan diluar komisariat. Ku datangi tiap-tiap komisariat untuk berdiskusi dan bertanya segala macam hal yang tak diajarkan oleh Komisariat Ekonomi. Perlahan aku mulai mengerti tentang politik, hukum, sejarah, dan menambah pengetahuan ke-HMIan. Memang, untuk menebang pohon yang begitu tinggi dan besar diperlukan ketelatenan dalam mengasah pisau. Sebagai aktivis HMI kita tidak boleh hanya menunggu apa yang disajikan komisariat, tetapi juga harus mau memasak untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga akan ilmu.
            Jika HMI dianalogikan sebagai lahan luas yang kosong, maka HMI adalah lahan luas yang siap diisi apa saja sesuai kehendak kita. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga lengkap tersedia, hanya saja apakah kita mau melakukannya atau tidak semua dikembalikan ke kita. Jumlah follower twitter @HMIAirlangga dalam dua pekan meningkat dari 200-an follower menjadi 800-an follower memantik ide konyolku dan fahri kader HMI Komisariat FISIP Airlangga yang sama-sama bertugas sebagai admin twitter untuk mengadakan Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) komisariat-komisariat dilingkup Koordinator Komisariat Airlangga. Temanya sangat sederhana, hanya untuk mengakrabkan kader HMI dan memperkenalkan Maba dengan HMI dengan mengundang Mbak Intan yang baru saja berhasil meraih predikat lulusan terbaik dari FEB dan mas Arya dosen FIB UNAIR. Dengan segala kekurangannya, akhirnya acara terselenggara dengan baik tanpa kekisruhan dan menunjukkan bahwa HMI besar karena berjamaah. Semua bisa bersatu asalkan menanggalkan ego pribadi dan dampak positif yang dirasakan adalah pada kepengurusan komisariat-komisariat dilingkup koordinator komisariat angkatan 2011 yang akrab sedari awal di HMI hingga diamanahi sebagai presidium komisariat.
            Selepas demisioner pengurus komisariat, ada beberapa opsi untuk melanjutkan jenjang perkaderan di HMI, yaitu lanjut sebagai pengurus komisariat, kandidat ketua umum korkom Airlangga, dan pengurus Cabang Surabaya. Akhirnya telah kuputuskan untuk melanjutkan jenjang perkaderan sebagai pengurus HMI Cabang Surabaya sebagai Departemen Perintisan Perguruan Tinggi Excellent yang berada dibawah bidang PTKP. Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula anginnya, hal ini yang aku rasakan selama menjadi pengurus HMI Cabang Surabaya. Hingga aku dinasehati oleh mas Muslim bahwa di HMI ini kita belajar perilaku. Harus belajar berkompromi, sesekali mengalah, menahan ego, dan semua orang tidak dapat kita perlakukan dengan sama. Rasa sebalku dengan beberapa pengurus Cabang Surabaya harus diredam dan tidak semua harus diutarakan. Pelajaran ini yang telah aku lewatkan setelah empat tahun lebih di HMI, aku mulai berlatih untuk memahami setiap  perilaku orang dan banyak bersabar. Perlahan mulai kurasakan adanya perubahan positif.
            Aku belajar memberontak karena tak tahan dengan stagnasi HMI ditingkat komisariat. Aku belajar membaca agar tidak dibodohi orang. Aku belajar berdiskusi untuk menumbuhkan ide-ide dan pengetahuan baru. Aku belajar menulis karena waktu sangat terbatas jika menyuarakan ide kesetiap orang. Inilah nikmatnya berkader di HMI.

   Penulis : Valiant Mahdi ( Mahasiswa S1 Manajemen UNAIR/ Kader HmI )

3 komentar:

  1. Assalamualaikum kak, perkenalkan saya eno mahasiswi IPB juga. Mau tanya adakah website/kontak HMI IPB yang valid? Saya tertarik ikut HMI tapi beberapa bulan kebelakang agak kesulitan mendapatkan informasinya. Trims.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum kak, perkenalkan saya eno mahasiswi IPB juga. Mau tanya adakah website/kontak HMI IPB yang valid? Saya tertarik ikut HMI tapi beberapa bulan kebelakang agak kesulitan mendapatkan informasinya. Trims.

    BalasHapus
  3. Waalaikumsalam mbak.. insyaAllah.saya tanyakan ke temen saya nanti. Atau kalau mbk ingin nanya2 bisa hubungk saya di aufal_f@yahoo.com trkmksih

    BalasHapus

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...