Oleh : Valiant Mahdi Syihaby Nur Hasyim
Keputusan orang-orang untuk ikut
Latihan Kader 1 HMI dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori, yaitu kagum
akan sejarah dan perjuangan HMI, salah satu anggota keluarganya HMI, sungkan
dengan teman yang merupakan kader HMI, dosen dikampusnya alumni HMI, dan
menjadi korban kedok kader HMI. Sejak kecil aku telah mengenal beberapa aktivis
HMI yang seringkali sowan ke rumah dan kenal akrab dengan mereka hingga saat ini.
Maklum, bapakku pernah aktif di HMI sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya
Komisariat Ushuluddin dan Ketua Bidang Internal HMI Cabang Surabaya, sedangkan
ibuku yang usianya lebih muda lima tahun dari bapakku juga pernah aktif di HMI.
Mereka mengajarkanku banyak hal tentang apa yang harus dilakukan seorang
aktivis HMI.
Aku melanjutkan studi di Institut
Pertanian Bogor (IPB) dan hal pertama yang kucari adalah HMI. Tak mudah
menemukan HMI, apalagi sistem perkuliahan di IPB menuntut mahasiswa tahun
pertama untuk menetap di asrama selama setahun penuh dan kakak-kakak senior
yang mendampingi mahasiswa-mahasiwa baru IPB ini kebanyakan berafiliasi dengan
organ mahasiswa yang didirikan pada tahun 1998 mengunci rapat informasi HMI.
Selang beberapa bulan, aku berdiskusi dengan Reza tentang HMI dengan segala
keterbatasan informasiku tentang ada atau tidaknya HMI di IPB. Aku mencoba
meyakinkannya untuk bergabung dengan HMI dan tiba-tiba ada seseorang yang
menyela pembicaraan kami untuk meminjam korek api. Ia juga mendengar obrolan
kami tentang HMI. Lalu kami berkenalan dengannya, ia adalah bang Furqon yang
saat itu diamanahi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bogor Komisariat Peternakan
dan ia menjelaskan banyak hal tentang HMI. Reza yang awalnya tidak tertarik
dengan HMI, akhirnya tertarik juga dan bang Furqon janji untuk segera mencari
informasi Latihan Kader 1 terdekat.
Setelah dinyatakan lulus LK1 dan
resmi menjadi kader HMI, aku mulai disibukkan banyak agenda mulai dari
membiasakan diri membaca buku pergerakan, kajian rutin, menulis, silaturrahim,
dan aksi. Senior yang membimbingku enggan berdiskusi denganku jika tidak ada
bacaan baru setiap bertemu dengannya. Walaupun hanya tiga bulan sejak dinaikkan
status dari anggota muda menjadi anggota biasa, banyak hal yang telah kupelajari
dari HMI Cabang Bogor. Kunci utama dalam perkaderan HMI adalah silaturrahim, tiap
ada agenda LK1 komisariat-komisariat se-Cabang Bogor, selalu aku sempatkan
datang dan berbicara banyak hal dengan pengurus maupun senior komisariatnya.
Setahun di IPB dengan segala hingar
bingarnya telah berakhir. Tiba waktuku untuk berpisah dan mengulang studi di
Universitas Airlangga (UNAIR). Sama halnya dengan di IPB, di UNAIR ini hal yang
kucari adalah HMI. Beruntung aku kenal baik dengan mas Afi yang menjabat
sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya, lalu ia memberikanku kontak ketua umum
komisariat ekonomi yang saat itu dipimpin oleh mas Didik. Berhubung surat mutasi
tak kunjung turun dan Alek yang saat itu sebagai ketua OC LK1 memintaku untuk
ikutan lagi LK1 sebagai syarat jadi kader HMI Komisariat Ekonomi walaupun aku
pernah ikut LK1 di komisariat kehutanan cabang Bogor.
Sangat membosankan dan tidak ada hal
yang baru kecuali materi teknik persidangan yang baru aku dapatkan di LK1
komisariat Ekonomi Airlangga. Yang menjadi fokus utamaku di LK1 ini adalah
betapa kakunya hubungan antara peserta LK1, panitia LK1, pengurus komisariat,
dan alumni. Setelah LK1 ini, aku tidak begitu aktif, bagiku tidak ada nilai
tambah yang kudapat di komisariat Ekonomi Airlangga dan forum diskusinya
terlalu menjemukkan. Sampai akhirnya komisariat memintaku untuk ikut LK2 Cabang
Surabaya bersama Himma, Faid, dan Alek menjadi perwakilan komisariat Ekonomi.
Forum LK2 ini menyadarkanku bahwa di
HMI harus haus ilmu dan selalu mencari hal-hal baru untuk diubah kearah yang
lebih baik. Apalagi di forum LK2 ini aku intens berdiskusi dengan mas Adhi,
yang biasa kupanggil Ketum karena demisioner ketua umum HMI komisariat FISIP
Airlangga yang saat ini kuliah S2 di St.John Seminary, Amerika Serikat begitu
ahlinya menjelaskan dengan detail filsafat, politik, dan sejarah. Sejak saat
itu kuputuskan bahwa kebiasaan-kebiasaan lamaku di Cabang Bogor harus
dihidupkan lagi terutama membaca buku dan berdiskusi. Lama sekali aku
merindukan forum-forum intelektual seperti ini. Juga disini aku berteman akrab
dengan Lukman, Tirta, Hanief, Muas, Fahri, Faqih, Adi, Hafid, Kaji, Mahfud,
Fuad, Yayak, dan Ricky.
Aku begitu bersemangat setelah
mengikuti LK2 ini dan sering melakukan protes ke Ketua Umum Komisariat Ekonomi
Airlangga karena begitu mundurnya perkembangan HMI sejak ia pimpin. Karena
protes-protesku tak ditanggapi, aku melampiaskannya dengan melakukan proses
perkaderan diluar komisariat. Ku datangi tiap-tiap komisariat untuk berdiskusi
dan bertanya segala macam hal yang tak diajarkan oleh Komisariat Ekonomi.
Perlahan aku mulai mengerti tentang politik, hukum, sejarah, dan menambah
pengetahuan ke-HMIan. Memang, untuk menebang pohon yang begitu tinggi dan besar
diperlukan ketelatenan dalam mengasah pisau. Sebagai aktivis HMI kita tidak
boleh hanya menunggu apa yang disajikan komisariat, tetapi juga harus mau
memasak untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga akan ilmu.
Jika HMI dianalogikan sebagai lahan
luas yang kosong, maka HMI adalah lahan luas yang siap diisi apa saja sesuai
kehendak kita. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga lengkap tersedia, hanya saja
apakah kita mau melakukannya atau tidak semua dikembalikan ke kita. Jumlah follower twitter @HMIAirlangga dalam dua
pekan meningkat dari 200-an follower menjadi
800-an follower memantik ide konyolku
dan fahri kader HMI Komisariat FISIP Airlangga yang sama-sama bertugas sebagai
admin twitter untuk mengadakan Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA)
komisariat-komisariat dilingkup Koordinator Komisariat Airlangga. Temanya
sangat sederhana, hanya untuk mengakrabkan kader HMI dan memperkenalkan Maba dengan HMI dengan
mengundang Mbak Intan yang baru saja berhasil meraih predikat lulusan terbaik
dari FEB dan mas Arya dosen FIB UNAIR. Dengan segala kekurangannya, akhirnya
acara terselenggara dengan baik tanpa kekisruhan dan menunjukkan bahwa HMI
besar karena berjamaah. Semua bisa bersatu asalkan menanggalkan ego pribadi dan
dampak positif yang dirasakan adalah pada kepengurusan komisariat-komisariat
dilingkup koordinator komisariat angkatan 2011 yang akrab sedari awal di HMI
hingga diamanahi sebagai presidium komisariat.
Selepas demisioner pengurus
komisariat, ada beberapa opsi untuk melanjutkan jenjang perkaderan di HMI,
yaitu lanjut sebagai pengurus komisariat, kandidat ketua umum korkom Airlangga,
dan pengurus Cabang Surabaya. Akhirnya telah kuputuskan untuk melanjutkan
jenjang perkaderan sebagai pengurus HMI Cabang Surabaya sebagai Departemen
Perintisan Perguruan Tinggi Excellent yang berada dibawah bidang PTKP. Semakin
tinggi pohon, maka semakin kencang pula anginnya, hal ini yang aku rasakan
selama menjadi pengurus HMI Cabang Surabaya. Hingga aku dinasehati oleh mas
Muslim bahwa di HMI ini kita belajar perilaku. Harus belajar berkompromi,
sesekali mengalah, menahan ego, dan semua orang tidak dapat kita perlakukan
dengan sama. Rasa sebalku dengan beberapa pengurus Cabang Surabaya harus
diredam dan tidak semua harus diutarakan. Pelajaran ini yang telah aku lewatkan
setelah empat tahun lebih di HMI, aku mulai berlatih untuk memahami setiap perilaku orang dan banyak bersabar. Perlahan
mulai kurasakan adanya perubahan positif.
Aku belajar memberontak karena tak
tahan dengan stagnasi HMI ditingkat komisariat. Aku belajar membaca agar tidak
dibodohi orang. Aku belajar berdiskusi untuk menumbuhkan ide-ide dan
pengetahuan baru. Aku belajar menulis karena waktu sangat terbatas jika
menyuarakan ide kesetiap orang. Inilah nikmatnya berkader di HMI.
Penulis : Valiant Mahdi ( Mahasiswa S1
Manajemen UNAIR/ Kader HmI )
Assalamualaikum kak, perkenalkan saya eno mahasiswi IPB juga. Mau tanya adakah website/kontak HMI IPB yang valid? Saya tertarik ikut HMI tapi beberapa bulan kebelakang agak kesulitan mendapatkan informasinya. Trims.
BalasHapusAssalamualaikum kak, perkenalkan saya eno mahasiswi IPB juga. Mau tanya adakah website/kontak HMI IPB yang valid? Saya tertarik ikut HMI tapi beberapa bulan kebelakang agak kesulitan mendapatkan informasinya. Trims.
BalasHapusWaalaikumsalam mbak.. insyaAllah.saya tanyakan ke temen saya nanti. Atau kalau mbk ingin nanya2 bisa hubungk saya di aufal_f@yahoo.com trkmksih
BalasHapus