Sabtu, 13 Juni 2015

Guru Tonggak Peradaban Bangsa



Oleh : Muhammad Aufal Fresky
Guru adalah pembentuk watak setiap generasi dan di tangan guru pula setiap peradaban akan menemui era keemasannya. Pernyataan tersebut adalah salah satu bentuk apresiasi penulis terhadap kinerja guru di nusantara yang begitu besar sekaligus untuk memperingati hari guru nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2014 kemaren.   Dua hari Sebelum hari guru nasional, tepatnya pada Hari Minggu 23 November 2014, penulis berkesempatan untuk menjadi moderator acara Leader Of Change Program, yaitu suatu acara yang digagas oleh Kementrian PSDM BEM UNAIR, dan kebetulan yang menjadi pemateri pada waktu itu adalah Bapak Anis Baswedan, selaku Mentri Pendidikan Dasar-Menengah dan Kebudayaaan. Terkait hari guru nasional, penulis kutip pernyataan Bapak Anis waktu itu yang menyatakan bahwa Bapak Anis ingin menciptakan proses pembelajaran  yang menyenangkan dan menghasilkan pembelajar, beliau juga menyatakan bahwa pembelajar adalah manusia yang mengalami bukan sekedar menjalani, pembelajar itu selalu belajar dari pengalaman, tidak terpaku pada program dan berfikir kreatif oleh karenanya pendidikan harus mengarah kesana.
Pernyataan Bapak Anis sejalan dengan  judul tulisan di atas yang menyatakan bahwa guru adalah tonggak peradaban bangsa, oleh karenanya guru tidak hanya menghasilkan murid-murid yang berprestasi secara akademik atau berkemampuan dari segi intelektual, lebih dari itu guru haruslah bisa menghasilkan manusia pembelajar.  Salah satu tujuan guru adalah untuk menghasilkan manusia pembelajar, yaitu agar nantinya ada kesadaran pada setiap generasi akan realitas hidupnya baik dari segi ekonomi, sosial, politik, budaya dan semacamnya sehinngga ketika kesadaran itu terbentuk maka akan tercipta pula pemahaman terhadap realitas hidupnya sendiri, dan diharapkan dengan begitu guru bisa menjadi pendorong dan penyemangat generasi muda untuk menciptakan peradaban yang lebih gemilang lagi. Peran guru begitu penting mengingat watak, sikap, karakter dan kecerdasan pemuda Indonesia ditentukan oleh sepak terjang sang guru tersebut. Pembentukan budi pekerti dan kecerdasan itulah yang nantinya akan menopang peradaban suatu bangsa. Sebagai masyarakat Indonesia patut kiranya  kita kembali mengoreksi diri bagaimana kita melihat perjuangan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, apakah dengan sebelah mata atau dengan penuh apresiasi, hanya diri kita yang bisa menjawabnya.
Dari masa ke masa peran dan fungsi guru tidak berubah yaitu memberikan pengajaran serat pendidikan kepada murid-muridnya. Faktanya ada sebagian guru-guru kita hanya bertugas sebagai pengajar yang mentrasnferkan ilmu dan pengetahuan ke murid-muridnya, dan tidak begitu peduli dengan keadaan emosi dan sikap anak didiknya tersebut. Padahal bertindak sebagai pendidik jauh lebih penting daripada sekedar mengajarkan dan memenuhi isi kepala anak didiknya dengan pengetahun tetapi di sisi lain jiwa anak didiknya kosong. Idealnya guru-guru kta tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga pendidik karena hal tersebut akan membawa dampak luar bisa bagi perekembangan anak didiknya. Salah satu dampak ketika guru-guru kita bertindak sebagai pendidik adalah adanya kematangan secara emosi dan tata perilaku anak didiknya. Peran guru sebagai penata perkembangan emosional dan intelektual anak didik itulah yang nantinya juga berdampak terhadap perubahan bangsa secara keseuruhan yang nantinya diharapkan menjadi penyangga peradaban di Indonesia.
Memang untuk mencapai suatu peradaban yang gemilang butuh waktu, namun kita harus mengerti bahwa tidak ada peradaban yang gemilang tanpa adanya proses pendididkan yang ideal di dalamnya. Proses pendidikan inilah yang nantinya tidak menafikan pernanan guru, bahkan menjadikan guru sebagai faktor primer terlatihnya mental, jiwa dan kecerdasan anak didiknya.
Penting kiranya bagi semua guru memeperhatikan kondisi bangsa saat ini. Alasannya agar guru-guru di Indonesia tidak hanya menjalankan produk dari pemerintah berupa kurikulum sebagai bahan acuan pengajaran, melainkan mereka melakukan berbagai macam inovasi, kreasi dan terobosan sebagai langkah untuk menciptakan generasi emas bagi Indonesia nantinya. Jika guru hanya menjadi objek dari suatu sistem pendidikan nasional, maka penulis yakin bangsa ini sulit menemui lompatan-lompatan pencapaian di berbagai bidang. Di sini guru diarahkan tidak hanya mejadi media pembelajaran bagi para anak didiknya, lebih dari itu sebagai inisiator dan motivator  bagi anak diddiknya. Itulah guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi memberi asupan nilai-nilai spritual dan kebaikan bagi para anak didiknya. Profesi  guru begitu mulia karena di tangan guru pula tercipta pemimpin-pemimpin yang kelak akan menjadi pembela rakyat, dan karena peranan guru pula terlahir berbagai ilmuwan yang nantinya menciptakan penemuan yang menggoncangkan dunia, karena guru pula tercipta manusia dengan berbagai macam profesi dan jabatan yang nantinya membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat banyak.
Akhirnya, penulis berharap nantinya guru menjadi kompas penunjuk arah bagi setiap generasi, menjadi pelita sebagai penerang kehidupan masyarakat, dan menjadi tonggak peradaban bangsa.

By : Muhammad Aufal Fresky ( Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...