Oleh : Muhammad Aufal Fresky
Guru
adalah pembentuk watak setiap generasi dan di tangan guru pula setiap peradaban
akan menemui era keemasannya. Pernyataan tersebut adalah salah satu bentuk
apresiasi penulis terhadap kinerja guru di nusantara yang begitu besar
sekaligus untuk memperingati hari guru nasional yang jatuh pada tanggal 25
November 2014 kemaren. Dua hari Sebelum
hari guru nasional, tepatnya pada Hari Minggu 23 November 2014, penulis berkesempatan
untuk menjadi moderator acara Leader Of
Change Program, yaitu suatu acara yang digagas oleh Kementrian PSDM BEM
UNAIR, dan kebetulan yang menjadi pemateri pada waktu itu adalah Bapak Anis
Baswedan, selaku Mentri Pendidikan Dasar-Menengah dan Kebudayaaan. Terkait hari
guru nasional, penulis kutip pernyataan Bapak Anis waktu itu yang menyatakan
bahwa Bapak Anis ingin menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan menghasilkan
pembelajar, beliau juga menyatakan bahwa pembelajar adalah manusia yang
mengalami bukan sekedar menjalani, pembelajar itu selalu belajar dari
pengalaman, tidak terpaku pada program dan berfikir kreatif oleh karenanya
pendidikan harus mengarah kesana.
Pernyataan
Bapak Anis sejalan dengan judul tulisan
di atas yang menyatakan bahwa guru adalah tonggak peradaban bangsa, oleh karenanya
guru tidak hanya menghasilkan murid-murid yang berprestasi secara akademik atau
berkemampuan dari segi intelektual, lebih dari itu guru haruslah bisa
menghasilkan manusia pembelajar. Salah
satu tujuan guru adalah untuk menghasilkan manusia pembelajar, yaitu agar
nantinya ada kesadaran pada setiap generasi akan realitas hidupnya baik dari
segi ekonomi, sosial, politik, budaya dan semacamnya sehinngga ketika kesadaran
itu terbentuk maka akan tercipta pula pemahaman terhadap realitas hidupnya
sendiri, dan diharapkan dengan begitu guru bisa menjadi pendorong dan
penyemangat generasi muda untuk menciptakan peradaban yang lebih gemilang lagi.
Peran guru begitu penting mengingat watak, sikap, karakter dan kecerdasan
pemuda Indonesia ditentukan oleh sepak terjang sang guru tersebut. Pembentukan
budi pekerti dan kecerdasan itulah yang nantinya akan menopang peradaban suatu
bangsa. Sebagai masyarakat Indonesia patut kiranya kita kembali mengoreksi diri bagaimana kita
melihat perjuangan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, apakah dengan
sebelah mata atau dengan penuh apresiasi, hanya diri kita yang bisa
menjawabnya.
Dari
masa ke masa peran dan fungsi guru tidak berubah yaitu memberikan pengajaran
serat pendidikan kepada murid-muridnya. Faktanya ada sebagian guru-guru kita
hanya bertugas sebagai pengajar yang mentrasnferkan ilmu dan pengetahuan ke
murid-muridnya, dan tidak begitu peduli dengan keadaan emosi dan sikap anak
didiknya tersebut. Padahal bertindak sebagai pendidik jauh lebih penting
daripada sekedar mengajarkan dan memenuhi isi kepala anak didiknya dengan
pengetahun tetapi di sisi lain jiwa anak didiknya kosong. Idealnya guru-guru
kta tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga pendidik karena hal tersebut akan
membawa dampak luar bisa bagi perekembangan anak didiknya. Salah satu dampak
ketika guru-guru kita bertindak sebagai pendidik adalah adanya kematangan
secara emosi dan tata perilaku anak didiknya. Peran guru sebagai penata
perkembangan emosional dan intelektual anak didik itulah yang nantinya juga
berdampak terhadap perubahan bangsa secara keseuruhan yang nantinya diharapkan
menjadi penyangga peradaban di Indonesia.
Memang
untuk mencapai suatu peradaban yang gemilang butuh waktu, namun kita harus
mengerti bahwa tidak ada peradaban yang gemilang tanpa adanya proses
pendididkan yang ideal di dalamnya. Proses pendidikan inilah yang nantinya tidak
menafikan pernanan guru, bahkan menjadikan guru sebagai faktor primer
terlatihnya mental, jiwa dan kecerdasan anak didiknya.
Penting
kiranya bagi semua guru memeperhatikan kondisi bangsa saat ini. Alasannya agar
guru-guru di Indonesia tidak hanya menjalankan produk dari pemerintah berupa
kurikulum sebagai bahan acuan pengajaran, melainkan mereka melakukan berbagai
macam inovasi, kreasi dan terobosan sebagai langkah untuk menciptakan generasi
emas bagi Indonesia nantinya. Jika guru hanya menjadi objek dari suatu sistem
pendidikan nasional, maka penulis yakin bangsa ini sulit menemui lompatan-lompatan
pencapaian di berbagai bidang. Di sini guru diarahkan tidak hanya mejadi media
pembelajaran bagi para anak didiknya, lebih dari itu sebagai inisiator dan
motivator bagi anak diddiknya. Itulah
guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi memberi asupan nilai-nilai spritual
dan kebaikan bagi para anak didiknya. Profesi
guru begitu mulia karena di tangan guru pula tercipta pemimpin-pemimpin
yang kelak akan menjadi pembela rakyat, dan karena peranan guru pula terlahir
berbagai ilmuwan yang nantinya menciptakan penemuan yang menggoncangkan dunia,
karena guru pula tercipta manusia dengan berbagai macam profesi dan jabatan
yang nantinya membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat banyak.
Akhirnya,
penulis berharap nantinya guru menjadi kompas penunjuk arah bagi setiap
generasi, menjadi pelita sebagai penerang kehidupan masyarakat, dan menjadi
tonggak peradaban bangsa.
By : Muhammad Aufal
Fresky ( Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi Pembangunan UNAIR)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar