Selasa, 14 April 2015

Cokroaminoto Guru Bangsa


Tadi malam saya dan teman-teman berkesempatan untuk menonton sebuah film yang bercerita tentang HOS Cokroaminoto. Saya berangkat dari kampus, karena sebelumnya sudah direncanakan untuk nonton bareng. Kami berangkat sekitar jam 14.25 WIB dan ternyata dalam perjalanan hujan mengguyur Kota Surabaya. Namun kami tetap melanjutkan perjalanan, karena filmnya akan tayang pukul 15.05 WIB dan kami sudah menyepakati untu nonton jam segitu karena sebelumnya sudah membeli tiket melalui sistem e cash.
Sesampainya di tujuan yaitu di salah satu mall kota Surabaya, ternyata kami terlambat karena beberapa hal teknis. Selanjutnya kamis sepakat untuk nonton pada jam 18.10. Saya nonton bersama temen jurusan yaitu Roziq dan Cendradi. Jadi kami nonton bertiga. Otomatis kami harus menuggu beberapa jam sebelum film tersebut ditayangkan. Sehingga kami memutuskan untuk muterin mall tersebut sambil mengunjungi gramedia untuk mengabiskan jatah waktu untuk menunggu. Singkat cerita, sampailah pada saatnya film tersebut diputar dan kami duduk di kursi paling belakang secara berjejeran, Kami menikmati sajian film tersebut dengan beberapa kejadian menggemaskan selama di bioskop tersebut, Nanti akan saya ceritakan kejadian tersebut, sebelumnya marilah kita fokus pada tema utama tulisan saya ini. Tulisan ini akan mendeskripsikan sosok Cokroaminoto, peran dan pemikirannya untuk Indonesia dalam film tersebut
Mungkin anda sering mendengar nama besar Sukarno, atau membaca banyak hal terkait kehebatannya. Sukarno adalah salah satu murid Cokroaminoto. Sukarno pernah kos di rumah Cokroaminoto tepatnya di Gang Peneleh Surabaya. Selain Sukarno, masih banyak pemuda fan tokoh lainnya yang berguru ke Cokroaminoto, sepeti Semaun, Alimin dan masih banyak lagi. Dari situ bisa kita lihat bahwa Cokroaminoto menjadi panutan dan pendidik berbagai tokoh muda dan pergerakan waktu itu. Pria kelahiran Ponorogo tersebut konon dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota, hal tersebut dikarenakan Cokroaminoto memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Dia mampu mempengaruhi massa melalui kehebatannya dalam berpidato. Selain jago berorasi, beliau juga penulis yang handal. Pada waktu itu, Cokroaminoto melawan penjajahan melalu gagasan dan pemikirannya di berbagai media massa. Sehingga patut kiranya jika Cokroaminoto menjadi pusat perhatian banyak kalangan termasuk pihak imperialis yang juga turut mengawasi setiap gerak-geriknya.
Dalam film tersebut diceritakan kondisi bangsa yang sedang berada dalam penjajahan Belanda. Masyarakat pada waktu itu diperlakukan secara sewenang wenang, hak-haknya di rampas dan suara keadilan dibungkam. Jadi yang terjadi adalah seakan-akan kebenaran hanya untuk pihak penjajah, kaum pribumi harus tunduk dan patuh terhadap segala aturan dan kebijakan yang dikeluarkan pihak penjajah. Padahal aturan dan kebijakan yang dikeluarkan pihak Hindia Belanda  hanya bertujuan untuk memperkaya pihak penjajah dan mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan alam yang ada di Nusantara. Penindasan yang terjadi seolah olah menjadi hal yang biasa, karena masyarakat dikondisikan agar selalu taat dengan pihak penjajah, selain itu masyarakat pada waktu itu juga masih sangat banyak yang belum mengenyam pendidikan yang layak. Sehingga masyarkat Indonesia tetap dalam kondisi bodoh, tertinggal dan terbelakang dalam banyak hal. Belanda juga bermain licik dalam mencegah persatuan di antara pejuang, mereka melakukan politik pecah belah. Seiring berjalannya waktu, muncullah beberapa orang Belanda yang merasa prihatin dan peduli dengan kondisi masyarakat Indonesia. Salah bentuk kepedulian mereka yaitu dengan mengemukakan politik etis (politik balas budi) yang harus di terapkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Politik etis ada tiga unsur yang terkenal dengan sebutan trilogi Van De Venter yaitu edukasi (pendidikan), irigasi (pengairan) dan emigrasi (perpindahan). Hal yang menjadi catatan di sini yaitu terkait pendidikan, walaupun hanya beberapa pihak yang mengenyam, tetapi ternyata pendidikan yang diperoleh oleh anak bangsa waktu, dipergunakan untuk melawan dan mengusir penjajah. Dengan pendidikan tersebut muncullah beberapa pemuda dan tokoh yang progresif yang nantinya akan menentukan jalan dan arah bangsa ke depan. Termasuk pendidikan yang diperoleh oleh tokoh sekelas Cokroaminoto kala itu.
Itu adalah beberapa bagian yang diceritakan dalam film tersebut, ditambah pengetahuan saya terkait Cokroaminoto. Di film tersebut, Cokroaminoto diperankan oleh aktor handal yang bernama Reza Rahardian. Saya rasa Reza telah berhasil membawakan peran sebagai Cokroaminoto dengan baik. Cerita di film tersebut saya rasa sangat cocok dengan beberapa literatur sejarah yang pernah saya baca.
Kembali terkait Cokroaminoto, kita harus mengerti bahwa beliau adalah sosok pahlawan dan pejuang bagi bangsa ini. Kegigihan dan kekonsistenannya dalam membela nilai luhur dan kebenaran patut kita hargai dan tiru. Di film tersebut ada beberapa dialog Cokroaminoto dengan H. Agus Salim tentang pemikirannya terkait hijrah. Beliau berulang ulang menanyakan kepada H. Agus Salim terkait hijrah. Jika saya boleh menafsirkan, kata hijrah di sini bermakna yaitu untuk bergerak melawan segala sesuatu yang menyalahi nilai-nilai luhur, seperti keadilan. Cokroaminoto juga pernah di penjara selama 6 bulan,. Keluarnya  dari penjara beliau tetap gigih memperjuangkan nilai-nilai mulia tersebut. Dalam sebuah buku karangannya yang berjudul Islam dan Sosialisme disebutkan bahwa Cokroaminoto berjuang untuk kemerdekaan persamaan dan persaudaraan. Dalam salah satu dialog di film tersebut, Cokroaminoto mengimbau kepada salah seorang yang diajaknya berbicara agar senantiasa membaca. Saya sepakat dengan himbauan tersebut, karena membaca sangat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan seseorang. Membaca di sini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad yaitu iqro.`/  bacalah. Membaca di sini bisa membaca buku, fenomena alam, masyarakat dan sebagainya. Sehingga dengan membaca diharapkan manusia lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Salah satu kata mutiara Cokroaminoto yang sampai saat ini saya pegang yaitu, “Jika anda ingin menjadi pemimpin besar, berbicaralah seperti orator dan menulislah seperti wartawan.”  Kata-kata tersebut memberikan motivasi tersendiri bagi saya untuk selalu mengasah kemampuan di bidang tulis menulis.
Kita perlu mengerti bahwa Cokroaminoto adalah pemimpin besar yang sangat kharismatis, terutama di pulau Jawa waktu itu. Beliau adalah pemimpin organisasi Sarikat Islam (SI) yang jumlah anggotanya berjumlah jutaan dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya nama organisasi tersebut yaitu Sarikat Dagang Islam (SDI) yang mana Haji Samanhudi menjadi pimpinannya. Seiring berjalannya waktu SDI dilarang oleh pihak Belanda sehingga untuk meneruskan perjuangannya dibentuklah organisasi baru bernama Sarikat Islam. Singkat cerita, dalam berjalannya waktu organisasi SI terpecah menjadi SI merah dan SI putih. Hal tersebut dikarenakan adanya unsur komunisme yang disusupkan oleh Semaun dan Snevliet di  organisasi tersebut, sehingga memunculkan perpecahan dalam organisasi tersebut.
Setelah puluhan tahun berjuang, Cokroaminoto akhirnya meninggal dunia. Cokro meninggal sebelum bangsa ini memperoleh kemerdekaannya. Terkait hal tersebut kita tidak boleh lupa bahwa beliau sudah memberikan pelajaran dan mengkader berbagai pemuda dan tokoh pergerakan yang sudah siap dan matang untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangannya. Tak heran beliau disebut sebagai guru bangsa, karena telah banyak lahir berbagai pemimpin dari pemimpin karena didikan beliau. Guru bangsa juga diartikan sebagai orang yang telah meletakkan nilai-nilai perjuangan melawan imperialisme, kapitalisme dan kolonialisme di negeri ini. Saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia turut bangga karena Indonesia menjadi rahim yang melahirkan tokoh sebaik dan setulus Cokroaminoto.
Untuk mengakhiri tulisan ini saya akan saya ceritakan kondisi menggemaskan selama di bioskop. Singkat saja, intinya karena di bioskop tersebut hanya ada sekitar 12 orang, ternyata dimanfaatkan beberapa pihak yang sedang mabuk asmara untuk melakukan adegan kissing. Hal tersebut cukup memecah konsentrasi saya dan teman-teman. Bagaimana tidak mengganggu, adegan tersebut tepat berada di depan kami bertiga, ditambah jarak kursi saya rasa sangat berdekatan. Sepertinya mereka sedang di mabuk asmara, karena sempat saya perhatikan mereka melaukannya cukup lama. Bahkan ketika kondisi semakin gelap dengan iringan lagu yang begitu nyaring, mereka semakin agresif dan tidak memperdulikan Roziq dan Cedradi yang ketawa di belakangnya. Saya rasa mereka sudah mengerti bahwa kami memperhatikannya, tetapi apalah daya, dunia seperti milik mereka berdua dan kami bertiga dianggep patung mungkin. Bahkan  sepertinya adegannya tidak berhenti sebatas kissing, saya rasa lebih dari itu, tapi saya tidak akan menceritakannya.
Akhir cerita saya pulang ke kampus lebih dari jam 22.00 WIB dan kebetulan motor saya masih berada di  parkiran FEB UNAIR karena pas berangkat saya bareng Cendradi. Motor Beat plat M menjadi satu-satunya motor yang ada di parkiran tersebut dengan kondisi sudah digembok. Saya mencari petugas dan meminta tolong untuk membuka kunci gemboknya. Untuk membayar kesalahan saya yang pulang melebihi jam parkir, saya memberi sedikit uang untuk bapaknya. Akhirnya saya pulang, dan sesampai di kosan gerbang kos juga terkunci dan kunci gerbang lupa tidak saya bawa. Saya menghubungi temen yang di dalam, tapi apalah daya tidak ada respon, dan celakanya hp saya mati. Setelah menunggu beberapa menit ternyata bapak kos saya keluar dan membuka gerbang kuncinya. Di akhir cerita ternyata pahlawannya adalah bapak kos saya,hhehehe,,,


Surabaya, 14 April 2015

Penulis: Muhammad Aufal Fresky 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...