Tadi malam saya dan teman-teman berkesempatan untuk menonton sebuah film yang
bercerita tentang HOS Cokroaminoto. Saya berangkat dari kampus, karena
sebelumnya sudah direncanakan untuk nonton bareng. Kami berangkat sekitar jam
14.25 WIB dan ternyata dalam perjalanan hujan mengguyur Kota Surabaya. Namun
kami tetap melanjutkan perjalanan, karena filmnya akan tayang pukul 15.05 WIB
dan kami sudah menyepakati untu nonton jam segitu karena sebelumnya sudah
membeli tiket melalui sistem e cash.
Sesampainya
di tujuan yaitu di salah satu mall kota Surabaya, ternyata kami terlambat
karena beberapa hal teknis. Selanjutnya kamis sepakat untuk nonton pada jam
18.10. Saya nonton bersama temen jurusan yaitu Roziq dan Cendradi. Jadi kami
nonton bertiga. Otomatis kami harus menuggu beberapa jam sebelum film tersebut
ditayangkan. Sehingga kami memutuskan untuk muterin mall tersebut sambil
mengunjungi gramedia untuk mengabiskan jatah waktu untuk menunggu. Singkat
cerita, sampailah pada saatnya film tersebut diputar dan kami duduk di kursi
paling belakang secara berjejeran, Kami menikmati sajian film tersebut dengan
beberapa kejadian menggemaskan selama di bioskop tersebut, Nanti akan saya
ceritakan kejadian tersebut, sebelumnya marilah kita fokus pada tema utama
tulisan saya ini. Tulisan ini akan mendeskripsikan sosok Cokroaminoto, peran dan
pemikirannya untuk Indonesia dalam film tersebut
Mungkin
anda sering mendengar nama besar Sukarno, atau membaca banyak hal terkait
kehebatannya. Sukarno adalah salah satu murid Cokroaminoto. Sukarno pernah kos
di rumah Cokroaminoto tepatnya di Gang Peneleh Surabaya. Selain Sukarno, masih
banyak pemuda fan tokoh lainnya yang berguru ke Cokroaminoto, sepeti Semaun,
Alimin dan masih banyak lagi. Dari situ bisa kita lihat bahwa Cokroaminoto
menjadi panutan dan pendidik berbagai tokoh muda dan pergerakan waktu itu. Pria
kelahiran Ponorogo tersebut konon dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota, hal
tersebut dikarenakan Cokroaminoto memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa.
Dia mampu mempengaruhi massa melalui kehebatannya dalam berpidato. Selain jago
berorasi, beliau juga penulis yang handal. Pada waktu itu, Cokroaminoto melawan
penjajahan melalu gagasan dan pemikirannya di berbagai media massa. Sehingga
patut kiranya jika Cokroaminoto menjadi pusat perhatian banyak kalangan
termasuk pihak imperialis yang juga turut mengawasi setiap gerak-geriknya.
Dalam
film tersebut diceritakan kondisi bangsa yang sedang berada dalam penjajahan
Belanda. Masyarakat pada waktu itu diperlakukan secara sewenang wenang,
hak-haknya di rampas dan suara keadilan dibungkam. Jadi yang terjadi adalah
seakan-akan kebenaran hanya untuk pihak penjajah, kaum pribumi harus tunduk dan
patuh terhadap segala aturan dan kebijakan yang dikeluarkan pihak penjajah.
Padahal aturan dan kebijakan yang dikeluarkan pihak Hindia Belanda hanya bertujuan untuk memperkaya pihak
penjajah dan mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan alam yang ada di Nusantara.
Penindasan yang terjadi seolah olah menjadi hal yang biasa, karena masyarakat
dikondisikan agar selalu taat dengan pihak penjajah, selain itu masyarakat pada
waktu itu juga masih sangat banyak yang belum mengenyam pendidikan yang layak.
Sehingga masyarkat Indonesia tetap dalam kondisi bodoh, tertinggal dan
terbelakang dalam banyak hal. Belanda juga bermain licik dalam mencegah
persatuan di antara pejuang, mereka melakukan politik pecah belah. Seiring
berjalannya waktu, muncullah beberapa orang Belanda yang merasa prihatin dan
peduli dengan kondisi masyarakat Indonesia. Salah bentuk kepedulian mereka
yaitu dengan mengemukakan politik etis (politik balas budi) yang harus di
terapkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Politik etis ada tiga
unsur yang terkenal dengan sebutan trilogi Van De Venter yaitu edukasi
(pendidikan), irigasi (pengairan) dan emigrasi (perpindahan). Hal yang
menjadi catatan di sini yaitu terkait pendidikan, walaupun hanya beberapa
pihak yang mengenyam, tetapi ternyata pendidikan yang diperoleh oleh anak
bangsa waktu, dipergunakan untuk melawan dan mengusir penjajah. Dengan
pendidikan tersebut muncullah beberapa pemuda dan tokoh yang progresif yang
nantinya akan menentukan jalan dan arah bangsa ke depan. Termasuk pendidikan
yang diperoleh oleh tokoh sekelas Cokroaminoto kala itu.
Itu
adalah beberapa bagian yang diceritakan dalam film tersebut, ditambah
pengetahuan saya terkait Cokroaminoto. Di film tersebut, Cokroaminoto
diperankan oleh aktor handal yang bernama Reza Rahardian. Saya rasa Reza telah
berhasil membawakan peran sebagai Cokroaminoto dengan baik. Cerita di film
tersebut saya rasa sangat cocok dengan beberapa literatur sejarah yang pernah
saya baca.
Kembali
terkait Cokroaminoto, kita harus mengerti bahwa beliau adalah sosok pahlawan
dan pejuang bagi bangsa ini. Kegigihan dan kekonsistenannya dalam membela nilai
luhur dan kebenaran patut kita hargai dan tiru. Di film tersebut ada beberapa
dialog Cokroaminoto dengan H. Agus Salim tentang pemikirannya terkait hijrah.
Beliau berulang ulang menanyakan kepada H. Agus Salim terkait hijrah. Jika saya
boleh menafsirkan, kata hijrah di sini bermakna yaitu untuk bergerak melawan
segala sesuatu yang menyalahi nilai-nilai luhur, seperti keadilan. Cokroaminoto
juga pernah di penjara selama 6 bulan,. Keluarnya dari penjara beliau tetap gigih
memperjuangkan nilai-nilai mulia tersebut. Dalam sebuah buku karangannya yang
berjudul Islam dan Sosialisme disebutkan
bahwa Cokroaminoto berjuang untuk kemerdekaan persamaan dan persaudaraan. Dalam
salah satu dialog di film tersebut, Cokroaminoto mengimbau kepada salah seorang
yang diajaknya berbicara agar senantiasa membaca. Saya sepakat dengan himbauan
tersebut, karena membaca sangat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan
seseorang. Membaca di sini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad yaitu iqro.`/ bacalah. Membaca di sini bisa membaca buku,
fenomena alam, masyarakat dan sebagainya. Sehingga dengan membaca diharapkan
manusia lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Salah satu kata mutiara
Cokroaminoto yang sampai saat ini saya pegang yaitu, “Jika anda ingin menjadi
pemimpin besar, berbicaralah seperti orator dan menulislah seperti
wartawan.” Kata-kata tersebut memberikan
motivasi tersendiri bagi saya untuk selalu mengasah kemampuan di bidang tulis
menulis.
Kita
perlu mengerti bahwa Cokroaminoto adalah pemimpin besar yang sangat kharismatis,
terutama di pulau Jawa waktu itu. Beliau adalah pemimpin organisasi Sarikat
Islam (SI) yang jumlah anggotanya berjumlah jutaan dan tersebar di berbagai
daerah di Indonesia. Sebelumnya nama organisasi tersebut yaitu Sarikat Dagang
Islam (SDI) yang mana Haji Samanhudi menjadi pimpinannya. Seiring berjalannya
waktu SDI dilarang oleh pihak Belanda sehingga untuk meneruskan perjuangannya
dibentuklah organisasi baru bernama Sarikat Islam. Singkat cerita, dalam berjalannya
waktu organisasi SI terpecah menjadi SI merah dan SI putih. Hal tersebut
dikarenakan adanya unsur komunisme yang disusupkan oleh Semaun dan Snevliet
di organisasi tersebut, sehingga
memunculkan perpecahan dalam organisasi tersebut.
Setelah
puluhan tahun berjuang, Cokroaminoto akhirnya meninggal dunia. Cokro meninggal
sebelum bangsa ini memperoleh kemerdekaannya. Terkait hal tersebut kita tidak
boleh lupa bahwa beliau sudah memberikan pelajaran dan mengkader berbagai
pemuda dan tokoh pergerakan yang sudah siap dan matang untuk melanjutkan
tongkat estafet perjuangannya. Tak heran beliau disebut sebagai guru bangsa,
karena telah banyak lahir berbagai pemimpin dari pemimpin karena didikan
beliau. Guru bangsa juga diartikan sebagai orang yang telah meletakkan
nilai-nilai perjuangan melawan imperialisme, kapitalisme dan kolonialisme di
negeri ini. Saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia turut bangga karena
Indonesia menjadi rahim yang melahirkan tokoh sebaik dan setulus Cokroaminoto.
Untuk
mengakhiri tulisan ini saya akan saya ceritakan kondisi menggemaskan selama di
bioskop. Singkat saja, intinya karena di bioskop tersebut hanya ada sekitar 12
orang, ternyata dimanfaatkan beberapa pihak yang sedang mabuk asmara untuk
melakukan adegan kissing. Hal
tersebut cukup memecah konsentrasi saya dan teman-teman. Bagaimana tidak
mengganggu, adegan tersebut tepat berada di depan kami bertiga, ditambah jarak kursi
saya rasa sangat berdekatan. Sepertinya mereka sedang di mabuk asmara, karena
sempat saya perhatikan mereka melaukannya cukup lama. Bahkan ketika kondisi
semakin gelap dengan iringan lagu yang begitu nyaring, mereka semakin agresif
dan tidak memperdulikan Roziq dan Cedradi yang ketawa di belakangnya. Saya rasa
mereka sudah mengerti bahwa kami memperhatikannya, tetapi apalah daya, dunia
seperti milik mereka berdua dan kami bertiga dianggep patung mungkin.
Bahkan sepertinya adegannya tidak
berhenti sebatas kissing, saya rasa
lebih dari itu, tapi saya tidak akan menceritakannya.
Akhir
cerita saya pulang ke kampus lebih dari jam 22.00 WIB dan kebetulan motor saya
masih berada di parkiran FEB UNAIR karena
pas berangkat saya bareng Cendradi. Motor Beat plat M menjadi satu-satunya
motor yang ada di parkiran tersebut dengan kondisi sudah digembok. Saya mencari
petugas dan meminta tolong untuk membuka kunci gemboknya. Untuk membayar
kesalahan saya yang pulang melebihi jam parkir, saya memberi sedikit uang untuk
bapaknya. Akhirnya saya pulang, dan sesampai di kosan gerbang kos juga terkunci
dan kunci gerbang lupa tidak saya bawa. Saya menghubungi temen yang di dalam,
tapi apalah daya tidak ada respon, dan celakanya hp saya mati. Setelah menunggu
beberapa menit ternyata bapak kos saya keluar dan membuka gerbang kuncinya. Di
akhir cerita ternyata pahlawannya adalah bapak kos saya,hhehehe,,,
Surabaya,
14 April 2015
Penulis: Muhammad Aufal Fresky

Tidak ada komentar:
Posting Komentar