Telah
kita tau banyak media yang menyebarkan bebagai isu politik, entah itu dari segi
kredibilitas capres tertentu maupun komitmen dari suatu partai politik.
Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini disuguhi berbagai macam informasi politik
yang beraneka ragam dari berbagai media, baik itu media elektronik maupun media
cetak. Suatu hal yang begitu nyata dan tampak di depan mata kita yaitu mengenai
pemberitaan media mengenai potik yang seakan akan membentuk dua poros yang berlawanan,
saya tidak perlu menyebutkan secara gamblang media tersebut, yang jelas
kawan-kawan pasti mengetahuinya.
Di
tengah iklim dan suasana politik tanah air yang begitu nyata, seharusnya media massa mengambil peran di
tengah masyarakat sebagai penengah yang tidak memihak kepada salah satu calon
tertentu. Media massa sudah sewajarnya bersifat netral, terlepas para pemilik
media tersebut merupakan tokoh politik yang mendukung salah satu Capres
tertentu. Masyarakat membutuhkan beritan dan informasi politik yang bersifat
netral dan tidak mengarahkan mindset masyarakat agar membenci salah satu calon
tertentu. Bagaimanapun juga setiap Capres dan Cawapres mempunyai kekurangan dan
kelebihannya masing-masing, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media
massai memberikan informasi politik yang mendidik bagi seluruh komponen bangsa.
Jika
media massa di tanah air hanya menyebarkan isu politik serta pemberitaan yang
bisa menimbulkan ebencian dan perpecahan di tenag masyarakat, maka secara tidak
langsung mindset serta pemikiran masyarakat kita dijajah oleh media tersebut,
atau bisa dikatakan hal tersebut termasuk penjajahan intelektual, artinya suatu
jenis penajajahan yang bersifat halus dan tak kentara dimana media memanfaatkan
posisinya untuk menggiring massa dengan memberikan informasi politik yang
terkadang bersifat subjektif memihak salah satu calon. Bangsa ini membutuhkan
media massa yang mempunyai idealisme luhur, artinya benar-benar berpatokan pada
suatu nila-nilai kebaikan, bukan sebaliknya menjajah mental para generasi
bangsa. Melihat segmentasi masyarakat indonsia yang tidak semuanya terdidik,
seharusnya media massa lebih bijak dalam memberikan informasi politik, hal itu
agar hak-hak masyarakat dalam mendapatkan informasi yang bersifat netral dan
objektif bisa terealisasi dengan baik. Msayarakat indonesia juga diharapkan
lebih kritis dalam menghadapi fenomena media massa saat ini, karena
bagaimanapun juga pemberitaan di media massa di tanah air ada kaitannya dengan
unsur kepentingan dan politis.
Lantas
mucul pertanyaan di benak kita, bagaimana seharusnya kita memyikapi penjajahan
intelektual melalui media massa tersebut, jawabannya adalah pemerintah harus
mempunyai ketegasan dalam mengeluarkan kebijakan mengenai berita politik
seperti apa yang harusnya diberitakan dengan memperkuat UU mengenai pers
nasional. pemerintah juga mempunyai kewenangan dalam mereduksi pemberitaan yang
bisa menimbulkan kebencian seperti informasi yang sarat kaitannya dengan unsur
finah dan saling menjelekkan, dan hal tersebut masih belum bisa dilaksanakan
dengan baik hingga saat ini. Alangkah baiknya jika media massa terutama
televisi benar-benar mempunyai tujuan mulia untuk membangun bangsa dan negara,
namun sampai saat ini tujuan mulia tersebut masih menjadi suatu mimpi seluruh
komponen bangsa.
Masyarakat
harus lebih hati-hati dan selektif dalam memilih media massa, karena jika salah
dalam memilih media massa bisa menjadi bumerang bagi kehidupan seseorang yaitu
semacam pembodohan politik yang dilakakuan media tersebut, padahal kita membutuhkan
informasi yang jernih terlepas dari berbagai kepentingan. Masyarakat disarankan
jangn mentah-mentah dalam menerima suatu informasi apalagi terbawa suatu isu
politik, karena hal tersebut bisa menimbulkan disintegrasi sosial.
Harapan
saya kedepannya adalah media massa tanah air lebih dewasa dan bijak dalam
memeberikan informasi kepada masyarakat Indonesia sekaligus menjadi alat
pemersatu bangsa, sehingga dengan begitu masyarakat bisa belajar berdemokrasi
dengan baik, sehingga timbul budaya politik yang lebih beradab lagi.
Surabaya, 7 Juni 2014
Penulis : Muhammad
Aufal Fresky (Aktivis HmI Komisariat
Ekonomi Airlangga)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar