Pernah
kita dengar suatu masa ketika bangsa ini menjadi titik sumber peradaban di Asia
ratusan tahun yang lalu, tepatnya ketika
Raja Balaputra Dewa memimpin kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan atau ketika
Raja Hayam Wuruk memimpin kerajaan Majapahit di wilayah Jawa Timur. Pada saat
itu Nusantara belum terbentuk dan para penjajah belum menduduki bangsa
ini,namun seiring berjalannya waktu satu persatu bangsa asing mulai menguras
kekayaan bangsa ini dan mengeksploitasi manusia-manusia Indonesia dengan cara
yang sangat tidak berprikemansiaan, mulai dari Portugis hingga Jepang sebagian
besar hanya menjadi lintah darat bagi bangsa ini. Di zaman penjajahan itu pula peradaban emas
bangsa di zaman kerajaan-kerajaan besar mulai meredup bahkan hilang sama sekali
dari pangkuan ibu pertiwi.Berbagai
peristiwa penting mewarnai
perjalanan bangsa ini dalam menggenggam kemerdekaannya,mulai berperang secara
fisik dan berdiplomasi di meja perundingan dan banyak pula organisasi di masa
pergerakan kemerdekaan yang terbentuk seperti Bodi Oetomo, Sarikat Islam, Indche
Partij, Perhimpunan Indonesia dan masih banyak lagi yang lainnya,semua itu ikut
mewarnai perjalanan bangsa ini melawan kolonialisme dan imprealisme asing. Di
kala itu jiwa manusia-manusia Indonesia bergolak, mereka rela mempertaruhakan
jiwa raganya untuk suatu bangsa yang yang dicintainya, mulai dari golongan muda
hingga yang tua saling bahu membahu melawan penajajah tersebut.
Faktor
eksternal juga mempegaruhi membaranya semangat bangsa ini melawan penjajah, faktor-faktor
tersebut antara lain kemenangan Jepang terhadap Rusia pada tahun 1905, pergerakan
bangsa Turki yang dipimpin oleh Mustofa Kemal Pasha pada tahun 1908, Gerakan
Nasionalis Rakyat Cina yang dipimppin Dr.Sun Yat Sen, pergerakan Nasionalisme
Mesir dengan pimpinan Arabi Pasha(1881-1882), Pergerakan kebangsaan India
dengan tokohnya Mahatma Gandhi, dan juga muculnya paham-paham baru seperti
liberalisme dan demokrasi.Faktor eksternal tersebut seakan akan menjadi suatu
ledakan besar bagi perubahan perjuangan bangsa ini yang pada saat itu bersifat
kedaerahan menuju pergerakan yang berskala nasional.
Berkat
usaha yang pantang menyerah diiringi dengan doa,akhirnya bangsa ini memperoleh
kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Pernahkah kita merenung sejenak
kemeredekaan yang telah kita dapatkan itu mengorbankan ribuan lebih jiwa-jiwa
pahlawan kita yang gugur, mereka mencintai tanah airnya dengan sepenuh hati
tanpa pamrih,nasioanalisme mereka bersumber dari ketulusan hati nuraninya. Seiring
berjalannya waktu, pertanyaan besar mulai muncul di benak kita terutama
mahasiswa Indonesia,seperti sudahkah kita memberikan suatu hal bagi bangsa ini,
rasa nasionalisme mahasiswa di abad ke 21 mulai dipertanyakan berbagai kalangan,
bahkan masih ada mahasiswa yang tidak
hafal butir-butir Pancasila.
Ada
dua hal yang mungkin menyebabkan memudarnya rasa nasinalisme mahasiswa era
modern saat ini,yaitu cinta dan budaya.Kedua hal tersebut kedengarannya ringan
namun jika tiada bisa memanfaatkannya dengan baik bisa menjadi suatu musibah
besar kehancuran bangsa ini.Salah satu contohnya kecintaan mahasiwa akan gaya
hidup yang serba instan dan praktis,cara pandang mahasiwa yang serba
materalistis, ataupun budaya hidup invidualisme asing yang menggerogoti jiwa
gotong royong mahasiswa Indonesia dan lain sebagainya. Sebelum melangkah lebih
jauh lagi hendaknya kita ketahui makna dari nasionalisme itu sendiri,menurutt
Hans Kohn nasionalisme yaitu suatu paham dimana kesetiaan tertinggi suatu
individu diserahkan kepada bangsanya.Jadi sudah selayaknya mahasiswa Indonesia
berfikir secara jernih bagaimana cara mengabdikan dirinya untuk bangsanya
sendiri sesuai dengan bidangnya masing-masing, nasionaisme mahasiswa Indonesia
haruslah mempunya arah yang jelas agar tidak diombang ambingkan derasnya
pengaruh budaya populer saat ini. Memang sepertinya nasionalisme kita berada di
persimpangan jalan, namun dengan tekad revolusi perubahan yang kuat maka semua
akan bisa kita jalani,namun perlu kita ketahui bahwa nasionalime bangsa ini
bukanlah nasionalisme chauvanistis yang menjadi landasan imprealisme tetapi
nasionalisme kita adalah nasionalisme ala timur bisa dikatan juga nasinalisme
berbasis kemanusaiaan yang menghargai derajat dan kehormatan bangsa asing.
Sebagai
seorang yang berpendidikan sepatutnya jiwa nasionalisme mahasiswa mulai ditata,
mulai dari hal yang terkecil dan mulai dari diri sendiri.Salah satunya seperti
mulai bangga terhadap bangsanya sendiri,mengutamakan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan, kecintaan kepada sesama, keberanian
untuk membela kebenaran dan keadilan serta pengabdian tanpa pamrih dalam
memajukan bangsanya
Dengan
begitu jiwa nasionalisme mahasiswa akan kembali menemukan arahnya.Mereka tidak
akan menjual idealismenya untuk hal yang praktis dan bersifat temporal. Oleh
karena itu kekuatan karakter untuk berubah akan menentukan pembangunan jati
diri pemuda Indonesia. Pada akhirnya jiwa nasionalisme yang ada di persimpangan
jalan akan mulai menemukan arahnya kembali kembali.
Oleh : Muhammad Aufal (Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan Airlangga )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar