Kamis, 12 Maret 2015

Nasionalisme Mahasiswa di Persimpangan Jalan




Pernah kita dengar suatu masa ketika bangsa ini menjadi titik sumber peradaban di Asia ratusan  tahun yang lalu, tepatnya ketika Raja Balaputra Dewa memimpin kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan atau ketika Raja Hayam Wuruk memimpin kerajaan Majapahit di wilayah Jawa Timur. Pada saat itu Nusantara belum terbentuk dan para penjajah belum menduduki bangsa ini,namun seiring berjalannya waktu satu persatu bangsa asing mulai menguras kekayaan bangsa ini dan mengeksploitasi manusia-manusia Indonesia dengan cara yang sangat tidak berprikemansiaan, mulai dari Portugis hingga Jepang sebagian besar hanya menjadi lintah darat bagi bangsa ini. Di  zaman penjajahan itu pula peradaban emas bangsa di zaman kerajaan-kerajaan besar mulai meredup bahkan hilang sama sekali dari pangkuan ibu pertiwi.Berbagai  peristiwa penting  mewarnai perjalanan bangsa ini dalam menggenggam kemerdekaannya,mulai berperang secara fisik dan berdiplomasi di meja perundingan dan banyak pula organisasi di masa pergerakan kemerdekaan yang terbentuk seperti Bodi Oetomo, Sarikat Islam, Indche Partij, Perhimpunan Indonesia dan masih banyak lagi yang lainnya,semua itu ikut mewarnai perjalanan bangsa ini melawan kolonialisme dan imprealisme asing. Di kala itu jiwa manusia-manusia Indonesia bergolak, mereka rela mempertaruhakan jiwa raganya untuk suatu bangsa yang yang dicintainya, mulai dari golongan muda hingga yang tua saling bahu membahu melawan penajajah tersebut.
Faktor eksternal juga mempegaruhi membaranya semangat bangsa ini melawan penjajah, faktor-faktor tersebut antara lain kemenangan Jepang terhadap Rusia pada tahun 1905, pergerakan bangsa Turki yang dipimpin oleh Mustofa Kemal Pasha pada tahun 1908, Gerakan Nasionalis Rakyat Cina yang dipimppin Dr.Sun Yat Sen, pergerakan Nasionalisme Mesir dengan pimpinan Arabi Pasha(1881-1882), Pergerakan kebangsaan India dengan tokohnya Mahatma Gandhi, dan juga muculnya paham-paham baru seperti liberalisme dan demokrasi.Faktor eksternal tersebut seakan akan menjadi suatu ledakan besar bagi perubahan perjuangan bangsa ini yang pada saat itu bersifat kedaerahan menuju pergerakan yang berskala nasional.
Berkat usaha yang pantang menyerah diiringi dengan doa,akhirnya bangsa ini memperoleh kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Pernahkah kita merenung sejenak kemeredekaan yang telah kita dapatkan itu mengorbankan ribuan lebih jiwa-jiwa pahlawan kita yang gugur, mereka mencintai tanah airnya dengan sepenuh hati tanpa pamrih,nasioanalisme mereka bersumber dari ketulusan hati nuraninya. Seiring berjalannya waktu, pertanyaan besar mulai muncul di benak kita terutama mahasiswa Indonesia,seperti sudahkah kita memberikan suatu hal bagi bangsa ini, rasa nasionalisme mahasiswa di abad ke 21 mulai dipertanyakan berbagai kalangan, bahkan  masih ada mahasiswa yang tidak hafal butir-butir Pancasila.
Ada dua hal yang mungkin menyebabkan memudarnya rasa nasinalisme mahasiswa era modern saat ini,yaitu cinta dan budaya.Kedua hal tersebut kedengarannya ringan namun jika tiada bisa memanfaatkannya dengan baik bisa menjadi suatu musibah besar kehancuran bangsa ini.Salah satu contohnya kecintaan mahasiwa akan gaya hidup yang serba instan dan praktis,cara pandang mahasiwa yang serba materalistis, ataupun budaya hidup invidualisme asing yang menggerogoti jiwa gotong royong mahasiswa Indonesia dan lain sebagainya. Sebelum melangkah lebih jauh lagi hendaknya kita ketahui makna dari nasionalisme itu sendiri,menurutt Hans Kohn nasionalisme yaitu suatu paham dimana kesetiaan tertinggi suatu individu diserahkan kepada bangsanya.Jadi sudah selayaknya mahasiswa Indonesia berfikir secara jernih bagaimana cara mengabdikan dirinya untuk bangsanya sendiri sesuai dengan bidangnya masing-masing, nasionaisme mahasiswa Indonesia haruslah mempunya arah yang jelas agar tidak diombang ambingkan derasnya pengaruh budaya populer saat ini. Memang sepertinya nasionalisme kita berada di persimpangan jalan, namun dengan tekad revolusi perubahan yang kuat maka semua akan bisa kita jalani,namun perlu kita ketahui bahwa nasionalime bangsa ini bukanlah nasionalisme chauvanistis yang menjadi landasan imprealisme tetapi nasionalisme kita adalah nasionalisme ala timur bisa dikatan juga nasinalisme berbasis kemanusaiaan yang menghargai derajat dan kehormatan bangsa asing.
Sebagai seorang yang berpendidikan sepatutnya jiwa nasionalisme mahasiswa mulai ditata, mulai dari hal yang terkecil dan mulai dari diri sendiri.Salah satunya seperti mulai bangga terhadap bangsanya sendiri,mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan, kecintaan kepada sesama, keberanian untuk membela kebenaran dan keadilan serta pengabdian tanpa pamrih dalam memajukan bangsanya
Dengan begitu jiwa nasionalisme mahasiswa akan kembali menemukan arahnya.Mereka tidak akan menjual idealismenya untuk hal yang praktis dan bersifat temporal. Oleh karena itu kekuatan karakter untuk berubah akan menentukan pembangunan jati diri pemuda Indonesia. Pada akhirnya jiwa nasionalisme yang ada di persimpangan jalan akan mulai menemukan arahnya kembali kembali.

Oleh : Muhammad Aufal (Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan Airlangga )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pelestarian Batik Madura Butuh Regulasi Terarah

  Sejak beberapa tahun terakhir, saya  bergelut di bidang usaha batik tulis Madura. Selain karena dukungan keluarga, faktor lingkungan juga ...