Manusia
diciptakan dengan banyak potensi. Salah satunya adalah akal yang digunakan
untuk berpikir. Kemampuan akal sejalan dengan sejauh mana kita menggunakan dan
memanfaatkan akal tersebut. Ibarat sebuah pisau, jika jarang diasah maka pisau
tersebut akan menjadi tumpul. Beda halnya ketika sebuah pisau seringkali diasah
maka pisau tersebut akan menjadi pisau yang tajam. Pun demikian dengan akal
yang kita milki. Jika akal tersebut jarang kita gunakan, maka lama kelamaan
akal tersebut akal akan menjadi tumpul. Daya ingatnya akan mengalami penurunan.
Salah satu cara untuk menggunakan akal agar tetap berfungsi yaitu dengan cara
membiasakan diri membaca buku. Minimal kita membaca buku beberapa lembar setiap
harinya. Karena dengan membaca buku, kita diajak untuk berpikir tentang apa
yang kita baca. Sehingga dari proses membaca tersebut akan terbentuk pemahaman
tentang suatu hal. Sebenarnya, inti dari tulisan ini adalah mengajak dan
menghimbau diri kita agar menjadi “Pemikir yang Progresif”. Salah satu cara
untuk menjadi seorang pemikir yaitu dengan membiasakan diri bergelut dengan
dunia literasi.
Tentunya
kita mengharapkan bangsa ini melahirkan generasi yang berpikiran cemerlang.
Yaitu generasi yang mampu menjawab tantangan zaman. Lebih tepatnya lagi, yaitu
generasi yang tidak hanya mampu untuk menjadi pengikut. Tetapi mampu menjadi
seoarang konseptor dan inisiator. Generasi semacam itulah yang kita harapkan
melahirkan pikiran-pikiran yang progresif. Yaitu suatu pikiran yang mampu
memberikan pencerahan bagi manusia lainnya. Pikiran tersebut cenderung pada
kemajuan. Memang jika ditinjau lebih dalam lagi, bangsa ini mengalami
ketertinggalan dalam berbagai aspek. Ketertinggalan dengan berbagai macam
negara di dunia ini. Terutama dalam aspek pengembangan ilmu dan pengetahuan.
Kita sepertinya harus berusaha lebih keras dan gigih dalam berjuang mengerjar
ketertinggalan itu. Semua berawal dari suatu hal yang bernama budaya baca di
negeri ini yang masih rendah. Sehingga rasa-rasanya cukup kesulitan dalam
menghasilkan manusia yang memiliki pikiran yang progresi. Padahal perkembangan
bangsa ke depannya juga bergantung kepada generasi yang memilik visi besar dan
pikiran besar.
Masyarakat
menantikan kehadiran generasi yang memiliki cita-cita besar untuk bangsanya.
Generasi yang siap terjun dan membenahi keadaan bangsa. Tentunya mereka yang
memiliki pikiran maju dan dengan sepenuh hati ingin membaktikan diri kepada
bangsa dan negaranya. Generasi muda juga perlu menjawab harapan masyarakat itu
dengan aksi nyata. Mereka harus membiasakan diri mengasah akal dan pikiran
mereka dengan berbagai literatur atau bacaan. Karena dengan membiasakan diri
terjun ke dunia pemikiran, nantinya akan timbul suatu ide, gagasan dan
konsep-konep luar biasa yang mungkin bisa diterapkan untuk memajukan bangsa
ini. Sekali lagi, bangsa ini membutuhkan generasi yang cerdas, progresif dan
revolusioner.
Oleh
karena itulah, melalui tulisan ini saya mengajak kepada kawula muda untuk tidak
menyia-nyiakan waktu mudanya untuk hal yang tak berguna. Sebisa mungkin
lakukanlah minimal hal-hal positif untuk kemajuan diri sendiri Karena dengan
menginstal ulang pikiran kita dengan sesuatu yang positi diharapkan akan
membawa dampak positif bagi kontribusi kita kepada masyarakat nantinya.
Terkadang kita enggan untuk berkontribusi karena pikiran kita masih terkekang
dalam zona yang nyaman. Maunya hanya bersenang-senang, tak mau ambil pusiing
mengurusi hal-hal di dalam masyarakat. Maka dari itulah, generasi muda harus
membiasakan diri untuk berpikir demi kemajuan bangsa dan negara. Caranya bisa
dimulai aktif membaca buku. Setalah terbiasa membaca buku, maaka tuangkanlah
berbagai pikiran dan gagasan kita dalam sebuah karya. Bisa dengan karya sastra
(puisi, novel, cerpen, dll) atau melalui artikel ilmian dan sebagainya. Intinya
jadilah generasi pemikir. Jadilah generasi pemikir yang progresif.
Berkontribusilah demi kemajuan bangsa dan negara.
Surabaya,
5 November 2015
Pukul
14.15 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar